Tuesday, June 7, 2011

Anak Rembulan

Anak rembulan, mari tuliskan.. tentang perjalanan yang baru genap usia setelah penuh lingkaran. Ayo ceritakan, kepedihan dan kemarahan yang kita pendam. Lama tidak mengeluh, bukan berarti kita cukup kuat menanggung beban. Lama tidak menyelonjorkan kaki yang pegal melewati malam, bukan berarti kita selamanya bugar. Oh anak rembulan, senyummu teduh dan tiga perempatnya meninggalkan kemisteriusan. Kubaca mantra, namun sial, tetap tak terbaca ramalan.


Senyummu seolah menang, tak mampu aku rengkuh lengkung tubuh penuh peluh. Apa yang bisa kulakukan, mau kuambilkan buku bersampul biru? Agak berdebu memang, namun ia sempat menjadi kesayangan. Jack and the Beanstalk judulnya, kubaca berulang-ulang saat aku duduk dibangku sekolah dengan isi kepala penuh lamunan. Akan kutelusuri kembali perjalanannya, tentang daun kacang panjang yang menjalar tinggi hingga ke langit. Kembalilah kembali padaku, imaji, lamunan yang bebas tanpa kendali. Aku ingin hembuskan nafas pada ruh mu sekali lagi. Maka dalam hitungan ketiga, bergelayut tubuhku memeluk anak rembulan yang tersenyum pada Jibril.


Berhentilah menerka dan berhitung, pintamu padaku. Dari langit manusia tampak kecil seperti rumah-rumahan pada permainan monopoli. Ayo kita nikmati. Duduk di puncak batas yang burung bahkan tak mungkin lagi lewati. Kamu... ya, kamu.. maukah menghibur kertas kusam yang kotor oleh gesekan kasar? Melukislah di atasnya, ambil kuas halus dilaci dalam kamar. Beri warna pada malam, tentu masih kau ingatbukan, bagaimana ayah ajarkan menggenggam sebatang kayu berbulu itu. Muntahkan semua gelombang yang paling meresahkan dari ketidakpastian. Menumpahkan tinta hitam pada gelap malam. Terhuyung bergoyang di sudut mataku, kamu menari-nari mengajak bintang yang tak satupun tampak. Kasihan.


Goresan merah keemasan pada tubuhmu memang menyilaukan, tapi gelap masih kesepian. Luka tetap kesakitan, kebodohan masih menjadi hiasan. Aku merutuk pada anak rembulan. Aku menyobek lembaran dongeng si kacang panjang. Keindahan yang kudapat dari cerita menjelang tidur menghilang seperti alkohol yang dicampur minyak tanah, tertinggal bau aneh dan udara gamang. Tak ada, kubilang.


Anak rembulan, keindahan ini semu di seperempat malam. Temui aku lagi saat genap usia lingkaran, yang menatap cinta dengan dewasa dan penuh kelembutan.



Kututup jendela kamarku, lalu sempurna kubayangkan kamu disamping tidurku...


jogjakarta, 6 Juni 2011

Sunday, May 1, 2011

Come and Go

I meet u in one point when i don't know when and where u're going to leave me (one day).


Ya. Life . People come people go, some leave me a very clear and good memories, some leave me mesmerizing stories i wanna tell to daughter and grandchild before they sleep (oh please don't ask when will it be happened exactly hehe) :) . I wish I can remember all without a single thing missed. Brain needs to work extra time and heart needs to be very patient to keep all faith in the past. Laugh and tears. Sad and happy. Mad and care. Yes all we've shared through the ups and downs.

You know, I always believe i'm gunno miss it someday. And you probably too. When we finally old and even have no bravery to imagine to be young again :)


Here he is, one of the story i wanna share to. Bagus Manik. Brother i met in a very small office but teach us a very big thing in life. Geronimo, more than just a radio where we work, it's a part of journey in life that we always thank for. No matter how long we spent time together there, we'll always be blessed having each other more than as friend. We are family.


These were the pictures we took in the last day, little surprise hopefully will mean so much when u miss us, Gus.


Take care and have a great journey there. I know u always be good, with your straight face telling the world whether u like or u don't hahaha.. Keep the faith u can go through anything with honesty and discipline :) I learned from you..


Remember, we are ur home. U never go, u can come anytime. So please :)


Ps: I made this note in english just to remind me that u are the most "kem-inggris" brother i ever met in that office (well, i count out "awang" the panda :p) Here I also put my shoes u made a joke about :)


Cheers,


Will miss u and your cynical words Hahaha!

Saturday, April 23, 2011

Saya dan Kebaya.

Lebih dari sekedar kecintaan saya yang lebih pada pakaian nasional ini, namun juga rasa bangga saat menyadari ini merupakan langkah sederhana untuk ambil bagian dari salah satu pelestarian budaya.


Kebaya. Tidak bisa dipungkiri, jika anak muda seperti saya (at least yg masih merasa muda lah hehe)sering melekatkan embel-embel tidak nyaman, ribet, kuno dan masih banyak persepsi negatif yang membuat kebaya semakin ditinggalkan. Sementara jika saja kita lebih rileks saat berpikir tentang kebaya yang tidak melulu kaku dengan bahan brokat yang berat, tidak melulu bermodel monoton dan begitu-begitu saja, sebenarnya toh kebaya menjadi lebih dari model pakaian tradisional yang (ternyata) bisa nyaman juga. Coba padankan kebaya kutu baru berbahan katun paris dengan celana jeans panjang atau bahkan celana jeans pendek. Pasti kesannya jadi lebih modern.


Sempat terlintas di pikiran saya, kenapa ya kita tidak seperti orang-orang India yang dalam keseharian mereka sering sekali memakai baju tradisionalnya. Saat saya kuliah dulu, teman India saya, sering terlihat datang ke kampus menggunakan baju kurung panjang yang berbordir khas india. Eh akhirnya malah saya yang jatuh cinta dengan ornamen India. Dari situlah saya menyimpulkan, jika bukan kita yang mempertahankan budaya yang kita miliki, siapa lagi. Kalau kita saja tidak bisa jatuh cinta dengan tradisi sendiri, bagaimana yang lain akan berminat.



Percaya lah, saya juga terkadang melihat sesuatu yang ke"bule-bule'an itu keren, yang kem"inggris" kalo lagi ngomong di depan mic ato lagi caper heheeheee.. tapi hal kecil yang saya usahakan untuk budaya adalah dengan tidak meninggalkan kebaya dalam keseharian saya. Tentu saja yang sudah saya modifikasi senyaman, setrendi mungkin dan bisa di temukan di Santi's Shop. Sebuah butik mungil di gejayan hehehe..


21 April kemarin saya sempat berkunjung ke Cokelat Roso, senang! karena ketemu Mbak Meika Hazim yang juga berkebaya kutu baru dan tetap telihat chic casual. Yaaaah, semoga bukan hanya karena hari Kartini ya jadi rame ngeliat kebaya dimana-mana. Tapi karena memang kebaya adalah bagian dari budaya yang tidak boleh hilang, bisa tetap terlihat cantik dan trendi sehari-hari :)


Happy Kartini's Day!




Wednesday, March 16, 2011

Anjing Buduk

Cermin berukir dan berbingkai lapisan perak itu terlihat sangat tinggi, dua kali lebih tinggi dari posturku berdiri. Aku ingat ketika pertama kali ia membawanya ke rumah ini, saat itu tuanku baru saja akan merayakan 40 hari anak pertamanya, persis saat pemilihan presiden berakhir ricuh dan harga bensin melambung dipenghujung 90-an. Ketika itu aku merasa amat yakin dia akan segera melupakanku, tak akan lagi berlama-lama bermain denganku, lupa memeluk dan mencium pipiku sebelum terpaksa berpisah malam di kamarku, melewatiku begitu saja saat yang lain ia dipamiti sebelum berangkat kerja. Perasaan takut, cemburu menghantuiku beberapa waktu, tentu saja dia akan melupakanku, saat ada mainan baru yang lebih menarik dariku, lebih hidup dariku, lebih bisa bicara dan yang pasti, lebih menjadi darah dan dagingnya. Bukan seperti aku yang hanya ditemukan di ujung gang tanpa pemilik. Namun semua kekhawatiranku salah, tuanku sama sekali tidak begitu. Dia tetap memelukku sebelum tidur, tetap berpamitan denganku sebelum pergi kemanapun, ya kemanapun. Sesekali ia mengajakku, jika tidak, aku yang mengantarnya sampai pagar kayu di depan rumah. Dia tidak melupakanku sedikitpun, itulah kenapa aku begitu merindukannya jika ia pergi ke luar kota begitu lama, aku kesepian.

Aku begitu mencintai tuanku. Bahkan aku hafal caranya menggeser kaki saat melangkah, aku hafal aroma tubuh yang ia sebar di udara meski wajahnya belum tampak oleh mata. Aku biasa berlari menjemputnya untuk menciumi tangannya, mengatakan betapa aku adalah hambanya yang setia. Namun itu dulu.. saat kaki ini mampu tegap menyangga tubuhku yang segar, saat bulu-buluku masih tebal, saat aku muda dan lincah berpacu dalam hitungan detik melawan angin berlari. Saat itu, aku sungguh merasa menjadi kesayangannya yang penuh pesona.

Sekarang kuamati, wajahku mulai murung, bulu-buluku yang panjang dan lebat mulai menipis. Dulu sempat kudengar beberapa kali tuanku memuji keindahan bulu kecoklatanku di depan para tamunya. Katanya, makanan yang sehat dan shampoo terbaik yang membuat buluku secemerlang itu. Yah, tentu saja pujian itu tak pernah kudengar lagi sekarang, lebih sering kudengar ia mengasihani bulu yang rontok, atau wajah dan tingkahku yang murung. Ingin sekali kukatakan padanya, sungguh, aku tidak murung atau menderita, hanya saja aku tak tahu apa sebab pipi di wajahku menjadi turun dan menggelambir, seperti halnya aku tidak tahu awal mula tubuhku semakin membesar dan berat.

Segalanya berubah, bukan hanya aku, tuanku pun sudah tak seperti dulu padaku. Aku tidak yakin apa dia tidak cinta lagi padaku. Karena dia masih menciumku sebelum tidur malam, masih berpamitan padaku sebelum bepergian. Masih sesekali bercanda denganku saat dia butuh teman yang menghiburnya saat ia tenggelam dalam kesedihan. Namun genggamannya tak selembut dulu, kurasakan getaran saat dia berpetualang di tubuhku. Dia sudah tak terlalu bersemangat mengajakku berlari mengitari perumahan, sering kali waktu sorenya dia habiskan untuk pengajian. Katanya di penghujung usia akan lebih banyak waktu dia gunakan untuk beribadah. Aku tak keberatan, mengingat rasanya tubuhku pun mulai malas kutegakkan, meringkuk lebih nikmat untuk postur tubuhku.

Ah tapi semestinya tak perlu lah aku berkecil hati, Cermin tinggi di ruang keluarga rumah inipun sudah tak segagah dulu. Permukaannya retak dan direkatkan sekenanya hingga meninggalkan bekas disamping patahan kanan kirinya. Tuanku sudah memiliki cucu yang luar biasa lincah sekarang, sesekali ia mengunjungi rumah ini dan membuatnya seperti kapal pecah. Aku menyukainya, kurasa diapun menyukaiku, kami kerap kali bermain bersama. Tendangan dari kaki mungilnya itu lah yang membuat bola melambung tinggi dan menghantam cermin hingga retak. Sudah coba kutangkap bola yang dia lambungkan, namun tubuhku terlampau berat kugerakkan sekarang, hingga melesetlah bola sasaran dan mencelakai cermin kebanggaan. Sempat kudengar ayahnya memarahinya, katanya, itu cermin penuh kenangan peninggalan neneknya. Tapi tuanku tidak, ia hanya tertawa dan segera mengambil perekat untuk menempelnya kembali. Kudengar ia berbisik perlahan, dia rindu sekali pada istrinya. Mendengarnya, entah kenapa kurasa pipiku semakin melorot, wajahku bertambah murung.

Menurut tuanku, usiaku tak akan lebih lama lagi dari hitungan anak sekolah menengah pertama. Katanya, sudah luar biasa aku bisa bertahan hingga usia 10 tahun seperti saat ini. Tuanku termasuk yg percaya hitungan satu tahun usia anjing setara dengan tujuh tahun usia manusia. Meski aku tak suka mendengarnya, namun dia suka sekali bertaruh padaku tentang siapa yang akan lebih dulu meninggalkan siapa. Sering pula berseloroh, semoga dia tak harus ditinggal pergi untuk yang kesekian kali. Ah, itu sungguh menakutiku. Ketakutan yang masih sama yang menghinggapiku saat kupahami bahasa tubuhnya. Suatu pagi, pelan dia berbisik, berpesan pada anaknya untuk menjagaku meski apa terjadi. Sedikit meninggi nada suaranya, berkata tak tega bila harus melihatku mati di penghujung usianya, tak kuasa menyaksikan sendiri saat nanti mataku rusak dan bola mata mulai lepas, menggantung seperti air mata yang mengeras tak mau turun di tengah pipi. Dia tak akan sanggup katanya.. Dia ingin mati tanpa harus melihat wajahku yang murung, dia ingin mati lebih dulu hingga tak perlu menangisi kematianku. Kesedihan bagiku, saat rupanya harapannya mewujud nyata, tuanku berhasil.

Tinggalah disini aku sekarang, didepan cermin tinggi yang retak, menghitung ketukan menunggu kematian. Menikmati hidung yang meler terus berair, mata yang mulai redup dan nyaris jatuh di usia tua. Anak tuanku sering memelukku beberapa saat, namun tentu tak ada yang mampu menggantikan tangan hangatnya yang merenta bersamaku, tak sama tarikan nafas dan aroma keringat yang dihabiskan saat berlari bersamaku. Aku kesepian tuanku. Aku ingin kau memelukku seperti saat hujan sore itu dan kau kedinginan. saat buluku menggumpal dan aku meringkuk di kakimu.

Kulihat pendar bayang wajahku semakin melorot. Aku tak lebih dari seekor anjing buduk berwajah murung yang merindukan tuannya. Ya seperti itulah aku.

jogjakarta, 16 Maret 2011

Thursday, February 24, 2011

Hitungan Itu Tak Bisa Dinamakan Cinta

Kau kibaskan perlahan dua lembaran berwarna merah di depan hidungku, aku acuh. Tak menarik bagiku. Sungguh.Kutaksir semestinya bahkan bila isi dompetmu habis terkuras, tetap tak terjinjing tak bisa kau bawa pulang. Aku mengasihanimu dalam hati. Kenapa harus aku lawanmu. Harga diri yang kujunjung tinggi tak akan kubiarkan terbeli, bahkan tak peduli habis ditinggal pembeli. Jika memang kau anggap aku terlalu percaya diri, bukan perkara, aku akan tetap melambung melintasi mega mendung. Jika aku lupa kembali, sepucuk tulisan tangan kusembunyikan di meja belajar laci kiri. Tanda dulu aku pernah mati-matian mencintaimu. Ya, teramat mencintaimu maksudku, bahkan melebihi cintaku pada takdirku.

Siang tadi kukenakan batik terbaikku, harapanku agar kau persis benar mengingatku. Tapi kau membongkar isi kepalaku, kau bedah dgn teliti ruas per ruas hingga kau temukan kesalahanku. Mempresentasikannya di hadapanku, menganalisa satu persatu lalu menelurkan formula untuk penelitian terindahmu. Aku.

Kau hargai berapa aku? Teori yg membuat aku ingin berbalik menyerangmu dengan hitungan-hitunganku, mengukur lompatanmu dengan takaran yang sempit dan melukai. Oh maafkan, tak semestinya aku memistari panjang lintasan yang sudah kita lewati, tak semestinya aku menimbang berapa liter keringat terkuras saat kita berlari. Tak semestinya aku, senyeri apapun nafasku. Aku menyesal..

Namun maaf jika harus kututup telingaku, bukan aku tak ingin mendengarmu, memotivasiku dengan kata-katamu, yang tentang pendek langkahku, tentang pelan kecepatanku. Sungguh bukan aku tak mengamini mantramu. Aku hanya ingin terus melaju. Tanpa ada penilaian yang menggelayut di pergelangan kakiku. Ringan seperti kapas, aku akan terus melaju. Sudah terlanjur kuputuskan ini pilihanku.

Demi Tuhan yg baik hati, maukah kita simpan hitungan di kepala? Tak kulihat cinta pada hapalan. Tak kudengar sayang saat nyaring melengking suara. Tak kutemukan masa depan saat saling menyakiti menjadi semacam audisi.

Jika tak terkejar larimu, terlampau melesat tak tergapai lagi olehku, tak bersediakah kau menungguku? Jika tak banyak waktumu, akupun tak tahu berapa sisa umurku. Dan maaf jika harus kuulang sekali lagi. Bisakah kita, kamu dan aku, mencukupkan hitungan tersimpan kepala? Karena bukankah semestinya kita saling menyemangati agar garis tujuan itu terasa tinggal sebentar lagi. Bukan sebaliknya.

Saat amarah meluncur tak tersaring lepas bebas begitu saja, tak terlihat cinta dari mata merah yang bicara. Sayang, hitungan itu tak bisa dinamakan cinta.



Jogjakarta, 25 Februari 2011

Saturday, January 15, 2011

Sarang

Teringat seperti saat pertama laba-laba bersarang di pojok langit-langit rumahku. mengejutkan dan sedikit menakutkan. Tergesa coba ku hilangkan, kucari semacam sapu setinggi 2 meter, lantas kubersihkan. Selalu begitu. Setiap hari kuamati, apa muncul lagi rangkaian benang di sudut yang sama. Memang terkadang tempatnya berganti, namun tetap saja mampu membuatku bersorak hati. Diatas semuanya sebelum memulai hari, pekerjaanku adalah mengenyahkan penumpang hidup yang membangun singgasana di atas kerajaanku sendiri.

Ritme keseharianku, tanpa kusadari adalah menjadi pengawas yang sejati, menengadahkan kepala, lalu mencari-cari. Siapa yang bilang aku mulai menanti? kemarilah, kuberi dia lembaran biru gambar pemimpin edisi lalu, ya, terima kasih untuk sebuah jawaban jitu. Aku bukan hanya mulai menanti, aku keasyikan tenggelam dalam hingar bingar penyambutan. Langkahku riang menuju tempat pertemuan. Sebuah siulan aku dendangkan dalam perjalanan.

Sekali waktu kujenguk persemayamannya tepat saat sinar matahari terbit menelusup dari celah atas jendela. Wow. Susunan benang berkilau keemasan, kemilaunya lembut menyinari sisi suram hati sebelah kiri. Sontak kusimpan galah yang biasa membasminya tanpa ampun. Siapa yang tega menghancurkan tempat tinggal yang begitu indahnya. Tidak juga aku.

Pemandangan yang kuduga Tuhan kirimkan untuk menghiasi kejenuhanku, cita rasa tak biasa yang mendekorasi stagnancy-ku. Aku bukan hanya terkesima, tak bisa tidur aku menerka siapa pemilik rumah mempesona di langit-langit petak yang tak lebih luas dari mushola kampungku. Pastilah sang penunggu sama anggunnya dengan rumah tinggalnya. Bukankah dia sendiri yang melilit setiap helainya hingga menjadi bangunan ajaib. Pasti keahliannya muncul dari pemahaman luar biasa akan seni yang menjadi nafasnya.

Aku berselancar di dunia maya, kutelusuri segalanya tentang sarang laba-laba. Orang-orang bilang kewarasanku terampas sia-sia. kubalas hanya dengan seulas senyum biasa. Tak apa, biarlah ini menjadi rahasiaku dengan semesta, apa sebab aku begitu memujanya. Seuntai talinya akan membuatmu kesulitan jika kau ukur dengan mistar, hanya 0,001 lebarnya, apalah artinya mereka pikir. Namun siapa menyangka, terbukti kekuatannya 5 kali lebih kuat dari baja yang berukuran sama. Para ahli menelurkan terobasan menggunakan kekuatan tak terbayangkan tersebut, sebuah rompi anti peluru dibuat dengan material yg sering termarginalkan kehadirannya. Sebuah bangunan anti gempa terinspirasi oleh bentuk bangunan sarang laba-laba. Lalu bagiku, pesonanya membuatku jatuh lebih dalam, pantas tak terbantahkan.

Aku mulai melukis tentang laba-laba, menuliskan lirik untuk sarangnya. Aku habiskan waktu menunggu datangnya serangga 4 pasang kaki, sekedar mengucap selamat malam lalu tertidur dalam mimpi berselimutkan benang-benang kemilau. Begitu seterusnya hingga kusadari mimpiku terasa begitu nyata. Saat aku tertidur dalam kesedihan dan bantalku lembab oleh air mata, kurasakan pelukan mungil menggelitik dari belakang. Kupikir aku tak sekedar bermain dalam imaji, sungguh kurasakan ujung-ujung jari kaki mungil itu benar-berar ada. Aku merasakan kehangatan dari dalam ketulusan. Kurasakan tubuhku tenang, tak merasakan gelombang, tak ada getaran. Benar-benar tenang seperti bayi yang dibedong dalam balutan jarik lurik.

Ya tuhan, kekuatan apa ini yang begitu melenakan.. Kuintip dengan sebelah mataku, tubuhku terbalut penuh benang. Berkilau keemasan. Aku seperti kepompong, hanya tinggal tersisa kepala saja yang tidak terbungkus. Aku berayun diatas sarang yang megah serupa permadani. "Tenanglah, kamu akan aman.." sebuah bisikan menenangkan. Aku pasrahkan, aku leburkan ketakutan..

Tidurlah aku lebih lama.. dalam usapan meneduhkan, dalam bisikan mendayu kalbu. Jangan terbangun, jangan pernah terbangun.

Sarang ini mencengkeramku, keindahannya membuatku tak sanggup berpindah. Sementara sang serangga tampak bersiap, beranjak pergi meninggalkanku di kediamannya yang agung. Tak ada masalah, di teduh sorot matanya, dia melangkah dengan pesona dan kegagahan yang tak sombong. Entah langit-langit mana lagi yang akan dia sambangi.

Aku masih berbalut untaian benang berkilau-kilau, terbungkus diam yang kokoh, tak tembus dan tak robek. Entah karena tak mampu atau entah tak mau. Hingga aku mematung dan kerikil berjatuhan menetes dari mataku. Tak lagi bisa kutemukan. Laba-laba itu menghilang dalam gelap sudut jalan.

Lalu itu lah kali terakhir aku melihatnya di hidupku, serangga delapan kaki yang meninggalkanku di sarangnya.

Jogjakarta, 16 Januari 2011

Saturday, January 1, 2011

Keranjang Tua

Dipenghujung tahun, kuamati kesayanganku yang berdebu, terbuat dari anyaman bambu. Dahulu ia kesayangan ibu, lalu diwariskannya padaku. Keranjangku yang tak lagi muda, kulitmu mengelupas disini dan sana, teringat dulu kubawa serta kemanapun langkahku mengudara. Teman setia, menghibur setiap luka dan derita. Gagang kayunya yang dahulu kokoh terkadang sekarang terlepas begitu saja, kurasa karena dimakan usia. Demi tuhan sedihnya, kutahu kau tak ada duanya.

Saat bilal mengumandangkan pujian untuk Sang pemilik nama indah, kuletakkan mukenaku disana. selepas bercumbu dalam doa yang kadang teringat kadang tidak. Tapi setelan putih, penutup aurat penghuni setia keranjang anyaman pemberian ibu yang bertuliskan namaku.














Kali ini, lagi-lagi aku datang membawa banyak gelap. Lebih tebal dari kelamnya malam pekat. Tak cukup bila hanya tergenggam dalam jemari perempuan kecil yang larut dalam timang pangkuan kanak-kanak.

Pendamping adam sebagaimanapun terdidik untuk tegar, sanggup menyelimuti segala pedih dengan kelembutan. Namun sayang, bagaimana harus kusembunyikan kesedihan. Saat keranjang tua sudah terlanjur penuh menampung semua. Tak kutemukan sedikit sela untuk meletakkan kepedihan. Kudesak, kutekan, kurapatkan semua isi di dalamnya. Tak juga kutemukan sela. Lalu dimana harus kuletakkan setetes air mata, bila sudah tak ada tempat untuk perempuan menangis dan kelelahan..

Saturday, December 11, 2010

Gula-Gula

Katamu, dulu aku sangat tahu bagaimana cara paling tepat menikmati gula-gula. Melumerkan lapisan padatnya di lidah lalu diam-diam manisnya kubawa sampai ke mimpi. Kamu pula yang sering kali terheran-heran, apa sebab aku betah berlama-lama menyimpannya dibawah dinding mulut. Ancaman bahwa ia akan melubangi gigiku seperti yg sering kau ucapkan tak berhasil menakutiku. Gula-gulaku seperti candu yang tak bisa kulepaskan. Nikmatnya mengikat, sumpah mati aku terpikat.

Namun itu dulu. Saat sore terlalu manja bila dilewatkan tanpa cerita.

Sekarang, ujung dan pangkal indraku seperti kehilangan fungsi. Aku tak mampu membedakan warna, tak mampu pula merasakan manis atau masam. Aku kebingungan, sementara gula-gulaku seperti semula sama saja. Masih terbungkus plastik bening warna merah muda. Lalu apa yang beda, mungkin racikan tangan yang tak lagi sama. Mungkin aku yang mulai menua, tak lagi selera pada gula-gula.

Ah, mana mungkin. Bukankah aku membutuhkannya seperti sungai membutuhkan air mengalir. Karena sungai bukanlah sungai tanpa ada isi yang dibendungnya. Bahkan sempat kutuliskan dalam jurnal hidupku, betapa istimewa artinya satu kesukaanku itu.

Analisamu, pilihan yang bercabanglah yang mengganggu curahan perhatianku. Aku diam, tak bisa membenarkan. Ingin kusalahkan, tapi takut bila jangan-jangan memang benar seperti yang kamu sebutkan. Ya Tuhan, apa yang salah pada pengecapku. Kuteguk air putih banyak-banyak, kugosok lidahku dengan sabut kelapa. Kesat. Aku ingin ia kembali seperti sedia kala. Agar rindu ini tersampaikan bila nanti bertemu lagi dengan gula-gula.

Kutelusuri sepanjang jalan, kuingat benar beberapa penjual memamerkan gula-gula terbaiknya dibalik etalase kaca satu meteran. Biasanya selepas kerja, aku selalu melewatinya dengan wajah tergiur bersemu-semu. Namun apa mau dikata, tak satupun gula-gula dapat kusapa. Kotak pajangan itu melompong tanpa dagangan.

Aku pulang dengan tangan hampa. Penuh sesak cerita betapa kecewa tak bertemu gula-gula. Namun wajahmu datar, hanya sempat mengernyitkan dahi di detik ke sepersekian. Katamu, memang kamu yang membuang semua gula-gula di dunia, saat tahu ternyata aku tak lagi pandai menikmatinya.

Tak mungkin sanggup tak menangis, saat menyadari kegagalanku ini sempurna.

Menuju Semarang, 10 Desember 2010

Monday, November 22, 2010

Pulang

Aku ingin pulang, ke padang luas yg mereka sebut gersang. Penuh debu dan tercetuslah kotaku tersayang kota tuaku yang usang. Namun apapun kata mereka, tak terbendung langkah ingin kembali memeluk cerita di peraduan lama. Bergelut bersama harapan di kursi rotan buatan tangan. Merengkuh roda kehidupan yang kukayuh dengan cinta sepenuh jiwa. Aku tetap ingin pulang.

Kudewasakan mimpi di sana, tumbuh bersama benturan yang mememarkan di kiri dan kanan, besar bersama goncangan yg membuat isinya berantakan. Kurapikan lagi, berantakan lagi. Kurapikan lagi, tentu saja sesaat lagipun akan berantakan lagi. Begitu seterusnya, belum berhenti hingga ia tumbuh menjalar seolah hanya 3 centi lagi tergapai. Aku melompat, belum juga kudapat. Kudengar sorakan, menyemangati dan mencemoohi. Aku tutup telinga, 3 centi lagi jarak pandangnya, lompatanku akan melambung lebih tinggi, aku berjanji. Sesaat lagi, saat aku pulang ke padang yg mereka sebut gersang.

Bukan aku tak betah disini, tentu saja aku akan selalu kerasan kembali. Padamu doa kebahagiaan kulafalkan sepanjang malam. Namun mengertilah, ada satu janji yang harus kutepati. Bukan hanya soal hati, namun juga perkara kenapa aku belum mau mati. Ini alasan kenapa aku selalu ingin bergegas pagi. Ini gairah yang selalu mencuatkan senyum saat lelah menguasai. Ini tentang keikhlasan yang melegakan saat air mata menyungai tak terbendung lagi. Aku yakin kau mengerti, setidaknya aku yakin sesungguhnya kau akan mengerti.

Maka biarlah dulu aku pulang. Lalu untukmu, akan kubawakan bingkisan sebagai buah tangan saat lebaran haji tahun depan. Tenangkan hatimu. Tak lain dan tak bukan, kembaliku selalu padamu, jalanku menuju surgaku.

Sungguh. Aku hanya ingin pulang, dalam simpuh pada kuasa tuhan.


Ciputat, 20 November 2010

Thursday, November 4, 2010

Menghitung Usia

Saya termasuk yang tidak pernah menghitung usia. Malah tak jarang, orang lain yg mengingatkan jika saya merasa beberapa tahun lebih muda. Hehe..

Entahlah. Namun saya tidak sepakat jika usia dijadikan batasan untuk mengukur pencapaian keberhasilan seseorang. Seolah itu adalah garis mutlak yang bila tidak terlampaui, maka celakalah hidup manusia. Kata "seharusnya" yang dilekatkan setelah usia tertentu, terkadang membuat saya sedikit murka. Usia sekian seharusnya sudah mapan, bekerja, menikah punya anak, punya rumah dst. Siapa yg mengharuskan? Bukankah itu hanyalah aturan yang tidak pernah tertulis namun lalu disama ratakan fungsinya, dipukul rata. Dan bukankah kita tidak pernah tahu ketetapan masing-masing hati. Datangnya tidak mungkin seragam sama sesuai jadwal.

Ini bukan pembelaan saya atas apa-apa yang belum terlampaui di usia ini. Sama sekali bukan. Sebaliknya, ini adalah bentuk suka cita saya terhadap apa yang sudah saya lampaui. Saya merasa terberkati, di usia ini banyak hal yang sudah saya kerjakan dan saya yakini bukan sia-sia. Beberapa melihat saya terlambat, beberapa juga melihat saya tidak maksimal. Namun siapa yg mampu membaca puasnya hati jika melakukan sesuatu dgn cinta.

Sebaik-baiknya manusia adalah yang memberi manfaat bagi orang lain. Satu kalimat sederhana yang berarti luar biasa bagi saya. Menjadi motivasi bagi hidup saya. Biarlah jika beberapa pendapat memarginalkan pilihan saya, namun saya meyakini hidup saya menghidupi orang lain, dan itu membuat saya bernafas dengan lega. Saya merasa tangan dan langkah ini berarti.

Diusia ini saya tidak akan bertanya kenapa, kapan dan bagaimana padaNya. Saya mengerti bahwa Tuhan telah atur semua, tidak mungkin ada yang terlupa. Saya akan menjadi hamba yang sabar dan banyak berdoa. Tentang usaha, dalam setiap nafas ia akan selalu ada. Saya bukan yang pendiam dalam bekerja. Tidak :)












Saya tidak menghitung usia, namun bukan berarti saya lupa, 26 tahun perjalanan kehidupan saya. Cinta luar biasa saya dapatkan, mama papa yang tidak berhenti berdoa dan menyayangi saya, apapun untuk kebaikan saya. Saya yakin itu. Saudara dan keponakan-keponakan lucu yang menghujani dengan peluk cium dan kata sayang. Sahabat yang tidak pernah lupa berbagi doa dan ceria. Pekerjaan yang selalu saya syukuri karena beberapa tangan tergenggam dan tercukupi. Saya bersyukur.














Juga untuk kekasih yang rela memetik kebahagiaan hingga ke ujung dunia hanya untuk diberikannya kepada saya. Ini sungguhan. Betapa usahanya untuk membahagiakan saya selalu membuat saya bertekuk lutut pada cintanya. Tepat saat 26 tahun usia saya. Saya meneteskan banyak air mata melihat perjuangannya. Kebahagiaan memang tidak bisa dibeli, namun dia membelikannya untuk saya dengan besar perjuangannya. Lebih dari sekedar kado hebat yang saya terima, sebuah pensil warna lengkap, dengan ukiran nama saya di ujung kayunya. Lebih dari kejutan manis di malam hari, butik kecil tersulap penuh lampion warna-warni. Lebih dari itu. Dia mengajari saya, bahwa mencintai adalah melakukan segalanya untuk seulas senyum bahagia, tidak berhenti meski terkadang nyeri terasa diujung hati. Besar harapan saya agar saya bukan sekedar membalas dengan rasa haru semata, namun dengan pengabdian pada cinta yang tidak menghitung usia.







26 tahun, dan saya tahu Tuhan selalu baik hati. Hidup saya terberkati. Matur nuwun, Gusti.






13 Oktober 2010

Monday, September 20, 2010

Sepetak Mimpi dalam Toko

Astaga, ternyata cukup lama jemari ini tidak saya paksakan untuk menggoreskan rasa lewat kata-kata. Bukan apa-apa, hanya tampaknya kedua tangan saya sudah terlalu lelah setibanya di rumah. Melemah setelah seharian menjamu mimpi yang datang, membuatkannya kopi, menyiapkan setoples nastar bertutup plastik warna lembayung langit pagi. Harapan saya, Hei mimpi bersenang-senanglah disini, jangan lupa untuk tetap datang kembali. Namun saat memang ia harus pergi, saya pula yang melepasnya dengan lambaian tangan berulang kali. Harapan saya, agar sang mimpi menaruh perhatian lebih pada gerakan tangan yang bergoyang lebih cepat dari "wiper" penyeka air kaca depan, hingga tak sempatlah baginya melihat genangan di sudut mata kecil perempuan. Melepaskan mimpi tentu saja rasanya berat sekali, meski hanya berpisah ranjang dalam sehari. Sungguh..


Ya ya begitu.. Jadi baru lah saja saya sadari, lebih dari sebulan ini tumpukan kalimat hanya berhenti dalam hati. Sama tebal dengan ensiklopedi, hanya mungkin ceritanya jauh dari runtut, berlompatan sesuai dengan berkabung atau tidak, mendung atau cerah langit sang pemilik hati.


Sementara belakangan, waktu senggang saya habiskan khusyuk melumat hujan dari balik jendela toko kecil di Gejayan. Lagi-lagi tangan saya terlalu sibuk menjadi patung penyangga dagu, melihat percikan air yang muncrat dari genangan yang terlindas ban mobil yang melaju. Dari balik kaca, cipratan kobokan coklat itu melesak dan berpendar menjadi air mancur di Telaga Biru. Lalu rembesan air hujan yang menodai dinding sebelah utara sering memunculkan ragam liar warna warni. Tentang sosok pengantin bertutup kerudung putih yang serta merta berubah bentuk menjadi kubah masjid di sore esok hari. Pernah suatu ketika, saat angin tergesa-gesa menyerbu toko kami, pohon trembesi di pinggir jalan bergoyang seperti hendak menikam dengan dahan sebilah pisau, saya kehilangan nyali. Tapi lagi-lagi imaji berhasil menghibur diri, rembesan air di dinding mencandai, berbentuk kepala sapi. Hingga saya pun tak takut lagi. Bila hujan membanjiri, saya akan naik sampai ke atas kepala sapi. Ah, bilapun ternyata harus ternggelam, paling tidak ada si kepala sapi yang menemani.


Liar bukan kepalang, isi kepala bertukar tempat dengan sketsa masa depan, marah-marah dengan masa lalu, juga kelelahan adu argumen dengan nasib hidup hari ini. Saya habiskan semuanya di toko itu. Ruangan kecil yang dibuat sendiri oleh tangan sepasang kekasih. Tangan yang telapak kasarnya terbuka saat menampung cinta yang terluruh dari semua kemungkinan yang dunia sebut muskil. Kami berlindung disana, dari segala ketakutan, kekhawatiran, ketidakberdayaan. Kami berteduh, dari semua yang melegamkan harapan. Kadang kami gentar, menangis dengan kaki gemetar yang bahkan tak sanggup menyangga beban. Tapi pun kami, saya dan dia, berserah pada doa yang terlafalkan setiap malam. Sebelum terbujur dan bertanya apa-apa lagi yang akan terjadi saat esok pagi datang.



Akankah sama? Mencandai lagi genangan air dipinggir jalan, membebaskan ilusi liar atas rembesan air di dinding. Akankah sama? Berlindung di balik mimpi yang kita jamu dengan setulus hati.






Dibalik ruangan kecil itu, sepetak mimpi saya bebaskan melambung terpelanting sesuka hati. Dan kamu, rembesan bentuk kepala sapi. Ah...hanya imajinasi.



Santi's Shop, Gejayan, Jogjakarta. 19 September 2010

Sunday, July 25, 2010

Pemuja Sore

Untuk kamu sang pemuja sore.
Kapan lagi kita menikmati secangkir jahe dan sepotong kue.
Percayalah ini bukan hanya tentang perut yang perlu diisi,
Ini tentang rindu yang mengeluh minta diobati.
Ini tentang obrolan jenaka yang membuatku selalu khayalkan kamu disini.
Tentang genggam hangat tanganmu persis saat tenggelamnya matahari.
Ini tentang sore yang tak mungkin sama,
Jika kamu tak ada


Jogjakarta, 25 Juli 2010

Thursday, July 15, 2010

Bagaimana Mencatatnya

Rasanya tidak lengkap catatan saya jika saya tidak menuliskan ini, sebuah kesempatan yang saya anggap istimewa dan hanya sekali waktu terjadi. Saat dimana saya merasa Tuhan tidak terlalu bermurah hati pada saya. Ya memang, pada saat itu saya lah yang kurang bijaksana, melihat selalu ke atas, hingga menganggap diri terlalu rendah. Lupa bersyukur terlalu banyak meminta. Hingga saya menjadi malu. Ya Ampun, ternyata saya adalah hambaNya yang selalu berprasangka buruk, bahkan ketika sesungguhnya saya tak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam kurun satu jam lagi.

Yang saya tahu saat memulai hari itu, seharian saya akan menjadi tak lebih dari seorang MC Dokter Kecil Lifebuoy di tempat terbuka Prambanan, bersama anak-anak yang tentu saja bukan hanya menyenangkan tapi juga merepotkan. Berhadapan dengan klien yang cicicuit cerewetnya bukan main, -yang setelah saya pikir-pikir lagi, ya sudahlah mereka kan hanya pekerja profesional yang menjalankan tugas dengan baik- Mana saya menyangka jika di satu hari yang saya tuduhkan akan biasa-biasa itu malah meninggalkan goresan kesejukan dan ketenangan.

Berawal dari pertemuan saya dengan partner MC yang terlanjur saya sosokkan sebagai seorang yang sombong, dan tidak menyenangkan. Maaf, biasanya, biarpun status sama-sama MC, namun jika hanya menjadi pendamping MC Utama yang konon adalah artis ibu kota,ya begitulah adanya sikap mereka terhadap kami MC lokal. Tapi ternyata tidak semua begitu. Maafkan saya sekali lagi, manusia yang terlalu cepat menyimpulkan bahkan sebelum kehendak Tuhan terjadi.

Dik Doank, sosok yang sebelumnya hanya saya lihat dari televisi, adalah sosok yang jauh berbeda dari bayangan saya akan glamournya dunia selebriti. Setengah hari kebersamaan kami dalam konteks bekerja, saya belajar mengenai banyak hal darinya. Bukan hanya bagaimana tentang menghidupkan suasana, menghilangkan rasa jenuh anak-anak, tapi juga tentang menghilangkan prasangka.

Saya tidak pernah menduga, diantara keterbatasan waktu yang diberikan saat break, dia mengajak saya untuk shalat dzuhur bersama. Mulai lah dia bercerita tentang betapa Allah memberi banyak kemudahan dalam ibadah, dengan menjamak sholat dan mengqashar rakaat. Lalu kenapa manusia masih seolah merasa kesulitan menjalankan perintahnya. Padahal waktu ibadah kita 5 waktu itu mungkin hanya sekitar 30 menit, apa lah artinya itu dibanding 24 jam waktu seharian yang diberikan, yang kita pakai untuk bekerja, untuk jalan-jalan, untuk facebook-an, twitter-an dll. Hahaha, pipi saya tidak merah, tetapi saya kok merasa seperti ada yang menampar.

Perlahan, saya sampaikan kekaguman saya tentang konsistensinya menjalankan ibadah, dan dengan berapi-api, beginilah jawabannya "sholat 5 waktu itu biasa san, yang hebat itu sholat sunnah. Dzakat itu biasa banget, tapi yang hebat kalau bisa terus sedekah". Saya makin merasa ruang-ruang hampa dalam diri saya mulai terisi, lalu perlahan terasa hangat. Di sela-sela acara, saat istirahat kami berdiskusi tentang banyak hal.

Tentang pekerjaan, dia sampaikan pada saya, bukan pointnya bekerja di kantor, swasta, atau entertainment. Kalau kita kembalikan pada peran kita sebagai HambaNya. Maka di manapun kita bekerja, kita hanya akan melakukan kebaikan, dan pekerjaan yang kami lakukan, jika dijalankan dengan hati yg tulus ikhlas akan terasa sebagai berkah yang luar biasa. Bekerja untuk membuat orang lain senang dengan hati yang juga senang. Lalu, dia juga membesarkan hati saya yang galau. Tentang perasaan saya yang merapuh sebagai seorang anak, saya merasa belum sanggup membahagiakan kedua orang tua dengan mewujudkan keinginan-keinginan beliau. Lalu dia katakan pada saya, Jangan pernah salahakan rasa sayang orang tua yang diberikan dengan berbagai macam caranya. Orang tua itu sayang sama anak, sangat sayang. Itulah kenapa mereka selalu menginginkan anaknya sukses, terkadang dengan cara-cara yang mereka pilihkan sendiri. Tapi bukan berarti anak tidak punya pilihan, San. Tunjukkan kamu bisa, kamu mampu sukses, kamu bahagia. Maka orang tua akan mengerti dan bersyukur. Saya yakin, sesungguhnya orang tua tidak pernah berhenti mendoakan anak.

Sulit untuk menceritakan dengan runtut apa-apa saja yang kami ceritakan, namun ada satu yang saya ingat, ceritanya tentang keluarga. Mas Dik Doank tampak bersungguh-sungguh ketika menyampaikan petuahnya. Katanya, jadilah perempuan yang cerdas, jauh lebih cerdas dari pada suamimu nanti. Kenapa? karena kamu akan menemani anak-anakmu meraih masa depannya, karena kamu akan membantu suamimu menjalankan pekerjaannya. Tapi, jadilah perempuan yang terlihat lemah di mata suamimu nanti, pura-pura jg nggak apa-apa deh, karena sebenernya laki-laki suka saat merasa dibutuhkan. Dia menutupnya dengan satu tawa yang keras, sambil membuat pengakuan bahwa kesal sebenarnya saat harus mengakui kalimat terakhirnya. Saya juga jadi ikut tertawa, seolah melepas sebentar beban di pundak saya.

Lalu soal betapa gemasnya dia pada dunia pendidikan di Indonesia yang seolah hanya mengedepankan persoalan hitungan semata. Dia sampaikan pada saya tentang keheranannya. Aneh, karena anak dianggap cerdas bila hebat soal hitungan sedangkan kreatifitasnya tumpul. Entah sampai kapan anak-anak itu akan terus-terusan menggambar 2 gunung menjulang dengan 1 matahari ditengahnya, ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Berbeda dengan sekolah alam yang dibuatnya, Kandang JuranK DoanK, yang menggunakan Asmaul Husna sebagai panutannya dalam kegiatan belajar mengajar. Asmaul husna, nama-nama baik Allah dimana Al Khalik Yang Maha Mencipta ada di urutan ke 14 ada di urutan lebih awal dibanding Al hisab, Yang Maha Menghitung. Dik Doank mengedepankan kreatifitas dan indah berkesenian dalam pengajarannya. Menurutnya, jika anak menyukai keindahan, maka anak akan menyukai kedamaian, tidak menyukai permusuhan, tidak akan mencemari lingkungan dan tentu saja akan membenci kebodohan. Kebodohan itu sama sekali tidak indah.

Dan meski ajaran di sekolahnya berlandaskan Asmaul Husna, namun dikatakannya, pengetahuan manusia tentang agama tidak lah boleh tertutup, harus terbuka. Ajaran agama yang diturunkan pada manusia tidak lebih dari budaya yang diterima dari pendahulunya. Agama manapun tak ada yang satupun mengajarkan kejahatan dan hal - hal buruk lainnya. Itulah kenapa kita harus menghormati agama lain.

Masih banyak yang kami diskusikan dan bicarakan. Bila sebulan belakangan mata dan telinga saya selalu penuh oleh hingar bingar pemberitaan selebritis dan videonya yang seolah menyeragamkan dunia entertainment. Hari itu saya seperti tersadar bahwa tak semestinya manusia terlalu gegabah menyimpulkan, tidak semua seniman selalu menjadi hamba yang lupa dan pendosa. Setidaknya saya masih sempat bertemu dengan satu diantara mereka yang menyadarkan saya, bahwa pahala ataupun dosa adalah urusan manusia di dunia untuk dipertanggung jawabkan di akhirat. Kewajiban kita untuk menjadi HambaNya yang selalu mensyukuri rahmat yang diberikan dengan menjalankan perintahNya, Namun tak sedikitpun berhak kita menghakimi, biarkan itu menjadi rahasia Allah di Yaumul Nisab.













Seolah kesejukan baru saja mengisi kekosongan di jiwa saya, seharian itu saya merasa malu karena terlalu terburu-buru berprasangka di awal hari. Kebaikan hati yang Tuhan berikan pada saya, terlalu sempit bila harus saya batasi artinya dengan sulitnya mobilitas, dengan banyaknya keringat yang terperas seharian oleh panasnya matahari, dengan materi yang tidak seharusnya saya bebani dengan hitungan-hitungan dan pertanyaan. Bukan itu ternyata. Ini tentang sebuah pelajaran yang hanya bisa dirasakan jika saya mulai mensyukuri langkah yang Tuhan arahkan. Sebuah pelajaran yang memang diberikan untuk saya, di satu satu tempat, di satu waktu yang tak dapat saya minta atau diputar kembali.

Ini tentang bagaimana saya mencatatnya, meresapinya dan sebenar-benarnya mensyukurinya.

Jogjakarta, 15 Juli 2010

Wednesday, June 30, 2010

Di Usianya

Terkadang manusia memang tak bisa berbuat banyak atas jalan hidup yang dipilihkan Tuhan untuk mereka. Sama halnya dengan "mbak-mbak" yang membantu beberapa pekerjaan di keluarga saya. Mbak Anis dan mbak Shiroh namanya, dua orang yang tentu saja sangat berjasa dalam kelancaran dan kerapian seisi rumah. Saat ini usianya baru belasan tahun,Mbak Anis 18 thn, mbak Shiroh 17 thn, usia yang sama saat saya dulu masih duduk di bangku sekolah, bermain bersama teman-teman, tak berpikir terlalu keras selain tentang pelajaran dan ujian. Namun demikian saya yakin, pasti inilah pilihan yang mereka rasa terbaik untuk dijalani, bekerja keras jauh dari keluarga, merelakan masa mudanya terbatasi oleh tanggungjawab yang mereka pertaruhkan untuk pekerjaannya.

Mereka manusia biasa di usianya, yang seperti halnya remaja lain, mereka senang mengekspresikan diri, senang berpenampilan menarik, berhasrat dan ingin tahu tentang hubungan lawan jenis. Saya ingat sekali betapa centilnya saya semasa remaja (well ok, pun masih berlangsung hingga saat ini :D ) selalu mengikuti perkembangan mode terbaru, mengikuti apa kata majalah, dan bila saya ketinggalan lagu-lagu terbaru dari band-band papan atas, itu artinya saya ketinggalan jaman. Maka saya pun tidak heran jika mbak-mbak saya itu lebih hafal dengan nama-nama band yang bahkan lagunya tidak di putar di radio saya bekerja. Mereka menyimpan mp3nya di handphone, lalu mereka putar saat mereka menyetrika atau memasak. Ya sudahlah, apa lagi hiburan mereka.. Jalan-jalan, shopping atau makan di mall seenaknya? jangan bercanda..

Kemarin ketika saya pulang ke rumah lebih cepat dari biasanya, rupanya itu cukup mengagetkan kedua "mbak" saya. Saya pulang di saat yang tidak tepat bagi mereka. Persis saat saya memarkir kendaraan di depan pagar, mbak-mbak saya sedang asyik berfoto dengan kamera handphonenya. Mungkin bukan hanya sekedar alasan itu saja yang membuat mereka tunggang langgang melihat saya, tapi bando milik saya dengan bunga merekah putih yang masih melekat di kepalanya dan tidak lagi sempat disembunyikan.

Oh Tuhan saya sungguh tidak keberatan sebenarnya. Saya bahkan sungguh mengerti, bahwa diusianya, mendekomentasikan diri dalam potret-potret yang disimpan di handphone mereka adalah hal yang lumrah. Bukankah nyaris remaja-remaja sekarang melakukannya, lalu apa salahnya? bukankah mereka juga masih remaja. Miris hati ini melihat mereka yang lari tunggang langgang menahan malu karena ketahuan hiasan bunga milik saya masih terselip di rambutnya. Saya malahan sedih, menyadari bahwa mereka adalah gadis-gadis biasa yang terpaksa menahan hasrat mudanya yang meledak-ledak. Seolah sayapun merasa patut dipersalahkan karena menjadi pemicu yang membuat keinginan-keinginan mereka semakin sulit dikendalikan. Adalah saya, yang membuat kesenjangan itu semakin terasa seperti jurang yang menyakitkan. Karena itu, maafkan saya ya..

Mbak-Mbakku sayang, mbak-mbak yang masih sempat tertawa dan memuja cinta ditengah beratnya tempaan kehidupan. Untuk pilihan sulit yang sudah berani kau buat, untuk pilihan yang lebih dari sekedar keterpaksaan namun juga sebuah pengorbanan, saya angkat topi tinggi-tinggi. Padamu, saya belajar untuk lebih berkaca memandang diri dengan rendah hati, lalu mensyukuri nikmat Tuhan yang terkadang saya alpakan.

Bukankah sesungguhnya setiap kita adalah manusia yang selalu dihadapkan dengan pilihan. Bersyukur bila tanggungjawabnya berjalan beriringan dengan hasrat alamiah manusia, namun bila ternyata berseberangan, maka hanya manusia-manusia hebat yang pada akhirnya tetap bisa konsisten dan bertahan.

Buat saya, mbak-mbak saya itu tetap sama saja dengan gadis remaja lainnya, keinginan mereka lumrah dan tak bersalah. Toh itu tak membuat mereka berhenti membantu saya, keluarga saya dan keluarganya.

Barbados, Jogjakarta, 30 Juni 2010

Tuesday, June 15, 2010

Catatan Doa

Ya Allah, tepat hari ini lelaki yang kukasihi sedang bertambah usia, dan aku sangat mengerti, bila itu berarti semakin berkurang pula jatah kehidupan yang telah Kau tuliskan untuknya.

Dia teman terbaik yang hadir di setiap nafasku,karena itu ya Allah, mudahkanlah jalannya.
Kuatkanlah hatinya.
Sabarkanlah marahnya.
Peluklah sedihnya.
Ceriakan tawanya.
Temani hari-harinya.
Biarkan dia mewujudkan impiannya..

Lalu bila memang menjadi ijinMu, biarkan aku mencintainya selamanya, ya Allah.
Tak akan sesempurna penghambaanku padaMu, namun biarlah aku mempersembahkan cinta terbaik yang aku punya.

Ya Allah, aku tahu Engkau tak pernah pergi, karena nya lah kupercayakan semua padaMu.. Dan bila dia menemuiMu hari ini, mohon sampaikan padanya, perempuan ini sangat mencintainya, dan berbahagia untuknya.

Jogjakarta, 16 Juni 2010 "Happy birthday, sayang"

Thursday, June 10, 2010

Caramu Merindukanku

Malam ini aku terpukau pada angan yang membeku, tak bisa bergerak hanya merapat saja di sudut-sudut situ. Berpikir tentang kamu dan hanya selalu tentang kamu. Wangimu, cara berjalanmu, cara tertawamu, cara bersenandungmu. Dan yang paling membuat ngilu, semua seolah berkelebat pasti di depan mataku. Lalu mendadak mencair. Nyes! Berubah menjadi cairan dingin yang menjalar hingga ke ujung kuku. Bukan hanya dingin malam, ini dingin kesepian.

Lalu aku ketakutan. Takut bila rindu ini akan berkepanjangan. Padahal kebiasaanmu terlanjur kuhafal sudah seperti asupan nutrisi yang berkecukupan, dan kehadiranmu? kehadiranmu bagiku adalah keseharian.

Caramu memanggilku dengan teriakan "Cenoooong" selalu kujawab dengan cengiran bersama mata menyipit tinggal sebatas garis, terkadang sembari tanpa ragu kamu usapkan telapak tanganmu dijidatku, tentu saja aku sering tersulut dan kesal, walaupun hanya dalam hitungan detik aku akan kembali jatuh di pundakmu. Lalu kebiasaanmu menggoda jurus rahasia berdandanku biasanya kubalas dengan raut pura-pura marah sambil mendaratkan cubitan di pinggangmu. Lalu segala gurauan kita yang tak pernah kita batasi, kita lepaskan bebas tanpa ada beban. Denganmu aku bahkan tak pernah malu, tak peduli bila akan terlihat jelek dan tak perlu terkekang oleh norma yang kaku. Juga caramu bernyanyi yang selalu membuatku yakin, bahwa pesona itu memang menjadi berkah, potensi dan harapan yang harus diwujudkan di masa depan. Belum lagi cerita-ceritamu tentang sejarah Cina, diskusi kita tentang cerpen kompas minggu, tentang headline surat kabar yang membuatmu gemas bila mata berputar-putar yang menjadi reaksiku. Tenang sayang, sudah banyak yang kuserap saat kamu bercerita dengan berapi-api saat itu, ya walaupun terkadang aku mencuri-curi waktu sesaat untuk membuka google agar bisa sedikit mengimbangimu. Lumayan lah agar ada bahan untuk mengomentari materi diskusi kita di saat itu. Yaya, Aku curang katamu, tapi kamu tak kalah curang. Kamu membuatku terbiasa dengan semua tentangmu, lalu aku terikat, tak bisa lepas dan bergantung padamu untuk menyentuh bahagiaku. Caramu mencintaiku yang sempurna, caramu merindukanku yang selalu terasa istimewa, semua lakumu yang jenaka dan menyebalkan, hingga setiap kebersamaan kita yang sederhana, tergubah menjadi alasan utama kerinduanku yang terasa terlalu lama. Oh Tuhan, air mataku terasa pahit meski tak tertelan barang sedikit. Entah kenapa aku pun yakin kamu pun merasakan hal yang sama, mungkin terdengar dari getirnya lagu sendu yang kamu bawakan dan hanya bisa kudengar lewat streaming radio malam ini.

Hidupku, keseharianku tanpa aku sadari adalah segala tentangmu. Tak heran bila malam ini aku terbujur layu, saat udara menyeruak di ruang yang menggemakan namamu. Sejak pagi tadi, belum kutemukan kamu.

Esok hari, aku harap rindu ini berbaik hati mempertemukanku dengan penawarnya.


Ciputat, 10 Juni 2010

Wednesday, June 2, 2010

When I'm Sick

Rezeki itu bentuknya bisa macam-macam, tergantung bagaimana kita melihat dan menyikapinya, begitu pula halnya dengan ujian. Orang naik pangkat, dapat jabatan tinggi, naik gaji dibilang rezeki. Padahal bisa jadi itu adalah ujian, bila lantas menyalah-artikan kedudukan, menyalah-gunakan jabatan, memboncengi status dengan segala hal yang bermuatan kepentingan pribadi. Terkadang memang sulit melihat dengan jernih, sekedar menempatkan posisi berdiri agar tak salah perspektif, lalu mengambil sikap bijak untuk mensyukuri rezeki atau ujian. Saya pun hampir salah, ketika saya mendapati diri jatuh sakit di tengah padatnya aktivitas saya.

Sejak awal minggu kemarin, alhamdulillah, agenda saya lumayan seru, kalender saya pun lumayan ramai dengan tanda merah yang saya bubuhkan bila saya menerima pekerjaan disamping siaran harian saya. Tentu saja jatuh sakit bukanlah hal yang diminta siapapun orangnya di dunia, saya mengcancel 2 jadwal yang tak memungkinkan saya lakoni dengan kondisi penuh bercak dan demam. Belum lagi GERONIMO, Radio tercinta saya yang sedang meriah-meriahnya merayakan ulang tahunnya yang 39. Banyak acara saya lewatkan dengan rasa kecewa yang besar, “Duh gusti, kenapa mesti sekarang sih sakitnya, dan kok ya kenapa mesti cacar air”. Beberapa teman saya memberi respon meledek ketika tahu saya sakit cacar, “Ya ampunnn.. segede ini baru cacar?? Dulu kecil ngapain aja San, belum kena cacar??” Hahaha.. semestinya sih wajar saja, karena setelah saya crossed check dengan mama saya, katanya dulu semasa kecil saya memang belum sempat kena cacar air.

Ya. Awalnya, saya menganggap sakit saya ini adalah sebuah ujian, badan tak enak, muka jadi penuh bercak oh jeleknya, pekerjaan tertunda, aktivitas terganggu. Tapi lalu saya teringat pengalaman saya persis seminggu sebelum saya terkena cacar. Saya kedatangan tamu pasien penderita Lupus di radio tempat saya bekerja. Kami ngobrol banyak tentang penyakit seribu wajah ini. Penyakit yang bahkan dokter sekalipun akan kesulitan untuk mendiagnosa penyakitnya, mengingat symptom-nya mirip dengan banyak penyakit berbahaya lain. Ini penyakit yang obatnya tidak bisa dengan mudah kita tebus begitu saja di apotik. Penyakit yang mengharuskan mereka hidup bersama pengobatan dalam kurun waktu hitungan tahun, bukan hanya semingguan seperti penyakit cacar saya. Penyakit yang bahkan resikonya adalah kebutaan dan lumpuh, bukan sekedar bekas yang sulit hilang seperti resiko cacar yang saya alami. Mereka saja kuat, mereka saja tegar. Lha kok saya yang Cuma dikasih cacar saja mengeluh. Ini kan cuma cacar..

Masih lekat dan segar juga dalam ingatan saya. Dua hari sebelumnya, saya sempat melihat berita dari televisi, tentang pak Iksan, seorang bapak yang berusia 61 tahun di Surabaya, Jawa Timur. Beliau berencana menjual ginjalnya untuk membayar hutang dan pengobatan sang istri. Duh, mirisnya perasaan saya saat melihatnya, sehari-hari beliau hanya menyuapi istrinya yang sakit dengan nasi aking –nasi basi yang dikeringkan-, di rumahnya yang luasnya 3x4 meter, tak lebih luas dari setengah lapangan badminton. Benar-benar kehabisan cara, beliau berniat menjual ginjalnya untuk mengobati sang istri yang sedang sakit. Gusti Allah, mungkin memang benar ya, di negara ini orang miskin nggak boleh sakit, akan makin repot urusannya nanti. Saya bersyukur, masih bisa menanggung biaya pengobatan saya tanpa harus menjual ini itu. Tapi sayangnya tidak semua orang seberuntung saya. Banyak sekali manusia di luar sana, di tempat yang bahkan di luar batas jangkauan saya, mesti berpacu dengan kematian sekaligus melawan kemiskinan.













Bila memang sakit saya ini adalah ujian, maka ini hanya ujian kecil yang harus saya jalani. Ada ribuan ujian yang dihadapkan pada manusia dan itu ribuan kali lebih berat dari yang saya jalani. Saya sendiri pada akhirnya lebih suka mensyukuri sakit ini sebagai rezeki. Karena setelah saya renungi, cacar saya ini memaksa saya banyak berdiam di rumah, berpikir tentang ini-itu yang sebelumnya mana sempat saya pikirkan, saya menyelesaikan buku bacaan saya, saya berkumpul dengan keluarga -mama saya pulang, saudara-saudara saya mendoakan, pacar saya terus menyemangati dan rajin menjenguk ke rumah, teman-teman saya perhatian, saya punya banyak waktu untuk browsing banyak hal sesuka saya. Alhamdulillah.. Meskipun kalau dikasih cacar sekali lagi, rasanya saya lebih baik di hukum lari keliling lapangan 10 kali.. hehehe

Memang, pada akhirnya sama saja, dalam sebuah ujian sekalipun, selalu ada yang bisa direnungi dan dipelajari, agar masing-masing menjadi pribadi yang lebih baik lagi, baik akal maupun budi. Dan ini lah yang harus kita syukuri. Saya percaya dalam setiap ujian, Tuhan selalu punya maksud baik. Ikhlaskan saja..

Oh ya satu lagi, masalah waktu kedatangan cacar juga sudah saya ikhlaskan. Ya mungkin dipilihkan waktunya memang paling pas sekarang, ketika saya sembarangan saja mengatur waktu istirahat. Lagi pula saya anggap cacar sebagai satu lagi fase yang pasti dialami manusia, sama seperti akil baligh, menstruasi dan menopause pada wanita, seperti peristiwa ujian sekolah, kelulusan, kegagalan, bahkan juga seperti perkawinan dan kematian. Semua orang akan merasakannya, hanya saja datangnya di waktu yang tidak bersamaan..


Cheers,

Jogjakarta, 2 Juni 2010

Sunday, May 23, 2010

Sayangnya Tak Mungkin

Saat saya menuliskan ini, saya sedang bersama teman-teman seperjuangan menunggu giliran bekerja. Di ruang transit talent yang dipersiapkan panitia, seusai makan malam yang berlaukkan ayam goreng, bihun pedas dan berbagai menu lain yang menggugah selera. Beberapa di antara kami, asyik tenggelam mengikuti tingkah polah Upin Ipin yang lucu dari balik layar televisi. Kekasih saya memilih untuk membunuh waktu dengan memetik senar gitar dan meneriakkan suara serakknya dalam lagu balad yang terdengar menyanyat. Terlontar begitu saja dari mulut seorang teman, tak terlalu ingat suara siapa, mengeluhkan betapa lama harus membuang waktu menunggu. Rasanya percuma. Saya pun sempat membenarkan, sebelum saya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.

Kami duduk, makan enak, menonton televisi, lalu menyumpah serapahi waktu yang seolah tak tahu bila sedang dinanti. Namun sadarkah bila seisi ruangan ini bukan hanya tentang kita yang kelelahan dan nyaris mati berdiri menanti. Ada dia, ada mereka. Yang sebelum kita datang dan duduk, sudah tegak di samping pintu sejak tadi, menunggu seseorang di antara kita melambaikan tangan, menghampiri, lalu membersihkan sisa-sisa makanan. Selebihnya, waktu kembali dihabiskan untuk berdiri lagi, menunggu kapan waktu memunguti piring-piring kotor agar bisa berdiri lagi, di samping pintu sudut yang situ-situ lagi.

Seandainya bisa, tentu dia lebih ingin berbagi tempat dengan kita, duduk menunggu giliran bekerja, menghibur lalu dielu-elukan. Hanya sekedar berbagi tempat, merasakan nyamannya lokasi yang biasa mereka tinggali. Bukan untuk melayani, tapi menikmati. Menikmati hidup yang kata sebagian orang ringan, yang kata sebagian orang santai. Kata sebagian orang yang tentu saja bukan mereka.

Bila semua di bumi ini dapat duduk sama rata, bila semua yang bernafas saat ini adalah tentang sama-sama berdirinya, tak peduli yang melayani ataupun yang dilayani. Seandainya di ruangan ini tak ada yang menahan segala kelu di persendian kaki, seandainya seluruh yang berdegup jantungnya di tempat persegi ini tak ada yang sedang berandai-andai menjadi orang lain. Seandainya semua peran bisa rata bahagia, sama ringan tanpa beban, tentu saya tak akan memaksakan diri menghabiskan waktu menuliskan satu persatu kegundahan saya.

Namun saya tahu, sayangnya itu tak mungkin. Ini yang mereka sebut hidup, tak bisa hanya tentang sama lega sama rasa.

Hanya bertukar-tukar saja. Hari ini mungkin mereka yang menghela nafas, menyeka keringat, menahan tangis. Esoknya, bisa jadi itu cerita tentang saya. Yang meski mungkin untuk alasan berbeda, namun tetap mengalah pada lelah dan menangis diam-diam. Ya, sayangnya, semua hanya jejak yang selalu terlacak sebatas misteri.

Dan seandainya saja saya tahu apa yang menjadi rahasia waktu nanti.. Ah, tentu saja sayangnya tak mungkin.

Jogjakarta, 23 Mei 2010

Wednesday, May 19, 2010

Mengubur Sajak

Menuliskan sebuah nama di atas dinding dengan warna senada.
Tiap goresannya menyisakan bebunyian yang miris mengiris telinga.
Tak terlihat?
Tak tampak?
Tentu saja.

Lalu kamu terus berteriak itu sia-sia,
Sementara aku berkata biarlah teruskan saja.
Ada banyak lengan bergantian memangku jemari dan menyelipkan semburat tinta.

Hingga sore ini saat hujan turun tepat diatas ubun-ubun kepala,
Barisan nada yang terlanjur kulukis mulai meleber tak berbentuk rupa semula.
Ubin menyisakan dingin hingga gerahamku menyatu dan bergemeletak seolah kerikil batu.
Bagaimana dengan kamu?
Juga kedinginan dan merasakan ngilu?
Sayang, kenapa tak ada suara?

Sayang?
Aku meraba, dan hanya bertatap senyap udara.
Oh. Kamu tak ada.
Tapi kemana?
Ingatanku lalu lalang mengejar sisa-sisa pengharapan.
Damn.
Kamu berlari terlalu cepat.
Maksudku, aku berjalan terlalu lambat.
Ya, begitu juga boleh.
Tak penting..

Yang jelas, kurasakan hanya tinggal aku sendiri,
Saat mengubur sajak-sajak yang tanah itu terus tangisi.








Jogjakarta, 18 mei 2010.

Saturday, May 8, 2010

Tentang Dunia Lelaki yang Kutitipi Sepasang Mata di Hatinya

Saat kamu datang di siang itu, bisa kurasakan lengket dan pekatnya kulitmu karena terbakar panas matahari. Meskipun begitu, aku tahu, kamu tak akan suka bila aku menghantar kesejukan dari pergerakan tanganku yang konstan bergerak naik turun di sampingmu, seperti juga halnya kamu tak suka bila aku menyeka keringatmu di depan teman-temanmu. Ya, tentu akan menjadi senjata maut untuk memperolokmu. Itulah kenapa kubiarkan hembusan angin mengitarimu perlahan hingga lalu keringat itu kering dengan sendirinya. Perkecualian bila memang hanya ada kita di sudut sini, sudah pasti kamu akan bergulung di pangkuanku, lalu aku akan memanjakanmu seolah kamu malaikat kecilku yang baru pulang berkeliling sepeda di usiamu puluhan tahun lalu. Perasaan ini memang besar, hingga kadang terlalu sulit untuk kubendung sendirian. Tapi tenanglah, itu tak akan menjadi pembenaran atas sikapku bila nantinya hanya akan membuatmu malu. Memang, sering kali aku merasa butuh berbagi, meski akupun jauh lebih mengerti bahwa aku harus tahu diri. Bukankah waktu dan keinginan tak selalu datang bersamaan? Ah, laki-laki.. kadang memang sulit dimengerti, entah gengsimu yang terlalu tinggi atau memang perasaanku yang sulit aku atasi.

Lihat duniamu lelaki, banyak hal yang sulit aku pahami. Tentang kesenangan yang kamu temukan saat terjaga hingga larut untuk melihat kesebelasan favoritmu berlaga dengan baju merahnya. Untuk teriakan dan decak kagum yang kamu teriakkan saat si kulit bundar itu akhirnya berhasil merobek gawang pertahanan lawan. Well ya, semisal pada saat itu aku menemanimu, sudah pasti adegannya aku sedang menahan diri untuk tidak terlalu sering menguap atau memilih melahap pizza tanpa jeda agar tidak terlalu terlihat mati gaya. Tapi memang begitu adanya dua manusia yang jenis identitasnya tak sama, memiliki keasyikan sendiri dan berbeda-beda. Seperi keasyikan yang tak berhasil kamu temui saat aku betah berlama-lama berselancar di sebuah fashion blog dunia maya. Bagimu itu mungkin entah apa ada manfaatnya, jauh lebih menyenangkan bermain Football Manager yang belum juga membuatmu bosan meski sudah dimainkan sejak kamu duduk di bangku Sekolah Dasar. Hebatnya, tak sekalipun kamu menyatakan keberatan atas segala macam hobi yang aku sukai, meski terkadang masih saja sepasang alis itu berkerut bila urusannya sudah bukan lagi hobi, melainkan pemborosan. Yah, aku pun begitu, sama saja. Bagaimana lantas perbedaan itu akhirnya sanggup hidup berdampingan dan saling membutuhkan, itu dia istimewanya.

Ya, lelaki..perempuan ini lantas terlanjur habis mencintaimu. Dengan cara bicaramu yang jauh berbeda dengan cara bicaraku, dengan cara berpikirmu yang melengkapi kekuranganku, dan tentu saja dengan rengkuhanmu yang selalu mampu menenangkan dan melindungiku. Aih aih, lalu tiba-tiba saja aku sudah bermimpi macam-macam tentang masa depan. Tapi lihat, dunia ini tak selalu indah di setiap sudutnya. Terkadang bahkan kita tak bisa terlalu larut menikmati suasana. Beban itu memaksa kita berlari tanpa henti. Seperti kuda yang tak seharipun libur dan tetap ditarik pedati. Benar, hidup memang terkadang susah, terkadang kejam, terkadang menyakitkan, dan aku tahu kamu tahu itu. Bukankah kamu yang sering kali membuka mataku :)

Di salah satu gang tengah kota kita berpapasan dengan lelaki paruh baya yang menarik gerobak sampahnya. Dan meski banyak bulir keringat menghiasi dahinya, tak sekalipun dia lupa tersenyum pada kita. Lalu kamu selalu membalas kebaikan itu tak hanya padanya, tapi juga pada tukang parkir yang membantu kita menyeberang, pada ibu-ibu penjual donat keliling, pada pengamen di warung seafood. Walaupun di lain waktu tak akan aku menyalahkan emosimu yang terlepas dari kendali, di suatu ketika pengendara lain membuatmu jengkel karena menyerobot jalanmu dengan seenaknya. Jendela mobil kamu buka setengahnya, matamu membelalak dua kali lebih besar dari sebelumnya, namun tajam ucapanmu terhenti dan tak sempat terlontar. Bisa jadi karena tanganku terlanjur menahanmu kencang-kencang atau gejolakmu yang dengan sendirinya tertahan saat sadari tak ada yang lebih baik dari menghindari masalah. Atau masih ingat ketika kamu begitu marah pada seorang lelaki yang bertengkar dengan tukang parkir di jalan utama kota? Aku paham itu karena kamu tak tahan melihat seorang pekerja kecil tersebut masih harus berhadapan dengan kejadian yang merendahkan dan menyesakkan untuknya. Kamu tak tega, kamu ikut terluka, namun cara kita memang berbeda. Bila kamu meledakkannya, aku hanya bisa mengusap punggungmu dan berharap amarah itu masih sanggup diredam. Ya kerana memang begitulah dunia, selalu ada yang tak ingin kita lihat tapi lantas tiba-tiba saja tersaji di depan mata. Ada yang tak ingin kita lakukan, tapi entah kenapa ada banyak hal juga yang membuat kita sanggup untuk berdiskusi dan penuh kompromi.

Aku mencintaimu lelaki, tapi memang tak bisa kupilihkan yang indah-indah saja untuk penglihatanmu atau hanya yang baik-baik saja untuk perasaanmu. Tentu saja itu tak mungkin. Karena itu, kuat dan tegarlah seperti karang, meski terkadang dingin, sepi, dan sakit tak mungkin kamu hindari. Menangislah saat ombak besar menerjang, atau saat angin bertiup berputar cepat. Tak apa. Paling tidak tangismu hanya akan sayup saja terdengar.

Buka matamu lebar-lebar, sayang. Ada banyak keanggunan yang bisa kamu decakkan, bukan hanya tentang panorama tapi juga tentang betapa cantiknya kaum hawa. Aku? Tentu hanyalah debu yang langsung habis dalam sekali tiupan. Tak usah kamu pungkiri lelaki, binar mata itu tak bisa dipaksa sembunyi, saat pesona wanita membuatmu malas untuk berkedip meski sepersekian detik :D Tenang, tak akan menjadi masalah untukku, meski memang terkadang aku masih saja tak bisa lari dari kejaran cemburu. Tapi memang ini yang harus aku hadapi, sepasang mata yang tak mungkin kupaksa terpejam, keindahan lain yang tak mungkin tak melenakan. Itu bukan ancaman, meski bisa dibilang godaan. Dalam hatiku yang paling jujur selalu ada harapan, agar hanya sepasang mata itu yang terpuaskan, namun tidak sepotong hatimu. Hanya padaku hatimu berdenyut manja, hanya padaku ia puas dan bebas bercerita. Jadi tak apa, diam-diam selalu kuselipkan sepasang mata di hatimu. Agar tak hilang arah pandang dan tak lupa pada siapa kamu akan kembali pulang.

Lelaki, aku ini hanya satu partikel kecil dari alam semesta, yang hanya bisa mengikuti dan menghadapi apa saja yang menjadi kehendak dunia. Namun bersamamu, aku tenang..



Jakarta Kota, 9 Mei 2010