Showing posts with label Family. Show all posts
Showing posts with label Family. Show all posts

Friday, February 12, 2010

Peran Si Kembang Goyang

Sore tadi, saya sekeluarga sengaja menyempatkan diri melihat pementasan perdana, Naya, keponakan saya dari kakak laki-laki saya yang nomer dua. Keponakan saya itu dulunya terbilang pemaluuuu sekali, susah beradaptasi dengan situasi yang hiruk pikuk dan ramai. Biasanya bila dia di tempatkan disituasi seperti ini, dia akan memilih untuk menangis keras-keras, agar secara terpaksa bisa menghilang sementara dari pusat keramaian. Untunglah setelah dia beranjak besar, rasa percaya diri dan keberaniannya makin terpupuk, Naya makin sering tampil di berbagai pementasan di sekolahnya, beberapa kali juga sempat mewakili sekolahnya untuk perlombaan Fashion Show. Progress yang sangat baik memang, dan tentu saja mengharukan :) Saya pikir, itu juga berkat dukungan penuh dari kedua orang tuanya yang selalu mendukung setiap hal yang menjadi minat kakak Naya, mulai dari menggambar, ballet sampai fashion show.


Saat pentas sore tadi kak Naya kebagian peran sebagai little bird, mengenakan baju balet yang lucu dengan bulu-bulu warna hijau. Cantik deh :)

Namun ada satu hal yang saya catat dengan huruf tebal saat pentas itu dimulai. Sebelum anak-anak lincah dengan baju burung itu muncul, terlebih dahulu muncul di awal dua orang anak yang dengan kostum warna warni di bagian bawahnya dan memegang setangkai bunga cantik yang digenggam dengan kedua tangan. Kami yang duduk di bangku penonton sepakat, mengerti. Oooh, adik-adik itu yang kebagian peran menjadi bunga. Memang sepanjang pentas, saat burung-burung kecil itu menari lincah, berputar dan menggerakkan sayap kecilnya, dua tangkai bunga yang berdiri di depan tersebut hanya menggoyangkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri.


Kakak saya spontan berkomentar, "Kasian ya dek itu yang dua cuman goyang-goyangin tangan aja jadi bunga". "Ya tapi kalo nggak ada yang jadi bunga nggak keliatan kaya taman, Bun, pentasnya". Saya membalas tak kalah spontan. "Iya sih" kakak saya menyutujui.

Ya ya, peran kecil, peran pendukung, terkadang lantas berubah peran menjadi peran yang dikasihani karena dianggap tak ada dan tak penting. Coba sekarang dibalik, tanpa peran kecil itu, tanpa peran pendukung itu, tanpa kembang goyang itu, apa mungkin pementasan itu sebaik dan sesukses itu pula. Apa burung-burung kecil berkostum bulu itu akan terlihat cukup cantik tanpa dua tangkai bunga yang "hanya" bergoyang ke kanan dan ke kiri. Peran sekecil apa pun, tentu ada untuk memberi sebuah arti, asalkan kita mau menyadari.

Nanti, kalau Teratai kecil saya pentas dan "hanya" kebagian peran jadi bunga yang bergoyang di tiup angin, dia akan melihat ibunya menjadi orang yang bertepuk tangan paling keras di barisan penonton. Akan saya katakan padanya "Peran kecil bukan berarti peran tanpa arti. Dia memberi nafas dalam pertunjukan, dia melengkapi, dia menyempurnakan. Yang perlu kita lakukan adalah menjalani setiap peran yang diberikan dengan sebaik mungkin. Dan tentu saja dengan cinta. Bukan hanya di panggung pementasan, namun juga di panggung kehidupan".


Bagi saya, Tentu Tuhan tak mungkin lupa menyematkan alasan atas kehadiran kita di dunia, dan sama sekali kita tak punya hak untuk mengecilkan atau membesarkan arti sebuah peran dengan mata yang tentu melihat dengan segala keterbatasan. Catatan ini saya tuliskan agar nanti tak lupa saya sampaikan.

Peluk dan Cium Ibu untuk Teratai yang Masih Disimpan Di Surga,

Jogjakarta 12 Februari 2010

Wednesday, February 3, 2010

Sekelumit yang Aku Tahu Tentang Ibu

Tentu saja aku belum mengenalnya sebaik anak-anak dewasa yang dia besarkan sejak dalam rahimnya. Bila memang harus menyebutkan kurun waktu pertemuan, maka akan terasa belum terlalu istimewa, hanya dalam hitungan hari, bulan dan sedikit tahun.

Boleh dibilang, ini hanya sekelumit cerita dari semangat seorang wanita yang selalu kulihat di pancaran matanya. Tentang ketulusan mencurahkan perhatian untuk pekerjaan rumahnya yang nyaris tanpa cela dan keluhan. Tentang kekuatan hatinya yang dapat diandalkan saat mengarungi kehidupan, bahkan ketika terlanjur bergulir tanpa kuasa dan tak ada sedikitpun prediksi dalam genggaman. Dan tentu saja, tentang kecintaan luar biasa yang selalu memenuhi seisi ruangan saat ia bercerita tentang lelaki yang setia dia dampingi. Hingga akhirnya Tuhan meminta kekasihnya kembali dan harus melanjutkan perjalanan sendiri.

Tak banyak yang aku tahu, namun rasaku tak mungkin salah menilai ibu. Perempuan yang masih terlihat cantik meski wajahnya mulai berhiaskan kerutan, yang selalu berbagi perhatian dan kebaikan. Bagiku, tak ada yang salah padanya, tak pula ada yang keliru untuk niat baiknya. Namun bila masih harus ibu mengurut dada saat perih seolah tersayat sembilu, aku mohonkan agar malaikat menjaga tidurnya dan menyeka air matanya.

Ketika kadang terdengar di telinga, bahwa pola pikir perempuan yang sebagian besar rambutnya mulai berganti warna itu terlalu rumit dan mempersulit, sesungguhnya aku mengagumi ketelitian dan kepeduliannya pada hal-hal remeh dan sering terkecilkan. Ketika dia hanya tertawa saat bungsu kesayangannya berseloroh dengan tajam kata-kata, aku terkesiap dengan pemahamannya atas isi hati putranya. Dia tetap dapat mengartikan dengan benar kasih sayang yang diselipkan untuknya, sekalipun tergubah dalam bentuk sikap diam, dingin dan terkadang seolah tak peduli. Nanti, bila memang diizinkan, perkenan aku mewakili lidahnya yang selalu kesemutan bila harus mengucapkan sayang saat berhadapan. Perlahan akan didengar penggalan kalimat yang nyaris tak berani dia rindukan, betapa kami sangat menyayanginya :)

Untuk keikhlasannya menyiapkan masakan lezat setiap hari, untuk rasa kantuk yang selalu diusirnya bahkan ketika masih pukul empat pagi. Untuk kasih sayang yang tak putus-putus di setiap suapan untuk para cucu, sang buah hati. Untuk kesedihan yang harus disembunyikan saat niat baiknya lagi-lagi gagal dimengerti. Dan untuk keceriaan yang selalu dia tawarkan saat bercerita tentang koleksi batiknya sore tadi, semoga Tuhan selalu memuliakannya, dan menepati janji surga untuknya.

Jogjakarta, 2 Februari 2010 *Katanya, surga ada di bawah telapak kakimu. Namun bagiku, surga adalah jelmaan pengabdianmu setiap hari yang menjadi nafas bagi semua sifat baikku.

My Greatest Thing

Hallo perempuan hebat dalam hidupku,

Aku bukannya sekedar ikut-ikutan latah mengingatmu di satu hari dimana semua orang mengagungkan peranmu. Tapi ya kerena memang tak ada yang lain yang kubayangkan selain kamu saat aku terjaga di pertengahan tidurku seperti sekarang.

Terbayang dengan jelas bagaimana kamu tetap membuatkan telur setengah matang untukku sarapan saat aku masih duduk di bangku sekolah dulu. Bagaimana pagi harimu disibukkan dengan menyiapkan air panas untukku, menyiapkan seragam merah putihku, sampai susah payah mengucir rambut tipisku menjadi 2, hingga mencuat seperti air mancur. Hehehe itupun aku masih sering merajuk bila garis yang membelah kulit kepala terlihat kurang simetris. Ah, padahal bisa jadi itu yang terbaik dari penglihatan yang berbingkai kacamata minus ya. Maafkan aku yang dulu kalau begitu ;)

Lalu kau juga selalu ingat makanan kesukaanku. Membagi kepala ikan menjadi beberapa bagian agar aku bisa ikut kebagian saat harus beradu cepat dengan suami dan anak laki-lakimu :)

Belum lagi kalau aku ketahuan sakit, kepanikanmu mungkin akan melebihi dokter pribadi sekalipun. Kalau kebetulan kita sedang berdekatan dan aku tak sedang berstatus anak rantau, pastilah dengan sigap akan kau usap badanku dengan minyak hangat. Eh, aku juga ingat dulu saat kepalaku berdarah terantuk keramik gajah. Bukan karena darah mengucur deras di kepala yang membuatku stress bukan kepalang, tapi karena kau yang mendadak lemas melihatku berbalur cairan amis merah itu. Pasti kau sedih sekali ya saat melihatku begitu? Tapi ngomong-ngomong, aku senang kau menemaniku saat kepalaku harus dijahit hingga sekarang tertinggal pitak di sudut kiri. Eh waktu itu aku sudah bilang terimakasih belum ya?

Hallo, perempuan yang sebelum pulang ke Jakarta selalu minta dibelikan hena untuk melapisi warna putih di rambutnya.
Sabar dulu ya kalau sekarang baru bisa belikan satu kotak hena, mana tahu nasib mujur aku belikan hena sepabriknya nanti beberapa tahun lagi hehe ;) Humm, perempuan beruban yang luar biasa aku kagumi, dini hari seperti ini, biasanya aku sering mengganggu tidurmu. Perempuan sebayamu mungkin seharusnya sudah tertidur pulas dan mengistirahatkan lelahnya seharian. Tapi maaf lagi ya, kalau kau malah harus terjaga mengkhawatirkan aku yang pulang malam karena tugas siaranku ;( Eh, btw, aku sudah mengurangi jadwal malamku lho. Meski tetap saja dalam seminggu ada satu kali jadwal malam yang selalu memaksa kita bersitegang :'( tapi aku tahu kok, tak ada yang lain alasannya kecuali rasa sayangmu padaku :)

Nenek dari banyak cucu perempuan yang jago memasak, rindu tidak sih denganku?
Aku juga acap kali mendadak rindu bila teringat petualangan kita menelusur pasar, hobi yang sama yang membuatku berkeringat sampai sekarat. Atau geli bila ingat kebiasaanmu yang tak bisa berhenti berkomentar saat menonton serial kesukaan. Dan ternyata menurun padaku! Kita sama-sama suka bicara, ngecipris, orang jawa bilang. Coba mama dulu juga jadi penyiar saja, mungkin mama juga akan kebagian jadwal siaran malam, sama sepertiku hehehe, sudah bukan itu intinya.

Intinya... Ah, aku kangen ah. Kangen obrolan ringan kita saat kita berbagi bantal. Rumpi sana-sani yang membuat kita tak kunjung tertidur, atau menutup mata tapi mulut tak juga rapat tertutup :)
Walaupun kadang setelah aku berbalik badan, aku sering menyimpan air mata. Betapa sesungguhnya rasa sayangmu yang besar ingin aku balas dengan menjadi si bungsu yang berbakti.

Hallo yang disana :)
Lama juga ya aku tak menelponmu, sepertinya sudah beberapa hari yang lalu. 3 hari yang lalu ya terakhir? Ah, aku jadi malu nih. Padahal kau kan pasti tak pernah absen menyebut namaku di sholat malammu setiap hari. Humm, besok pagi aku pastikan akan menelponmu, akan aku sampaikan betapa anak bandelmu ini menyayangimu. Biarlah bila terdengar agak sinetron sedikit. Biar juga bila dibilang sekedar ikut trend setahun sekali. Tapi tahu lah mama aku tidak begitu.

Mam, aku minta maaf ya. Kalau masih banyak harapan dan impian yang belum berhasil aku wujudkan. Tapi satu yang pasti, aku sayang luar biasa sama mama. Kalau sampai ada yang meragukan ini, Arrrrrgh sini, biar aku tendang pakai sandal wedges!

Aku sayang banget sama Mamah. Terimakasihku tak terhingga untuk semuanya ya, Mah. Hiks

Jogjakarta dini hari, 22 Desember 2009

*Mam, tahun ini Santi absen bikin insert radio hari ibu yang biasanya selalu aku persembahkan buat mama, tapi bukan karena Santi uda males bikin-bikin sesuatu buat mama, itu cuman karena keduluan temen sekantor yang lebih rajin aja, hehe. Eh, besok santi kirimin sms puisi kaya biasanya juga ya, Mah :)

Timbangan Papah

Kemarin setelah menjenguk kakak perempuanku yang baru saja melahirkan di Rumah Sakit, aku dan mama papa menghabiskan waktu beberapa saat di pusat perbelanjaan barang pecah belah yang ngetop berat di Jogja. Progo, yang dulu identik dengan barang-barangnya yang berantakan letaknya tapi murah meriah itu, ternyata sekarang sudah jauh lebih teratur. Tempatnya lebih besar dan bagus. Yah, pasti lah, namanya juga bangunan baru gitu loh.

Papah dari awal sudah wanti-wanti sama kami, sesegera mungkin berbelanja, karena katanya masih ada keperluan lain yang harus dia lakukan di Rumah. Menyiapkan kamar bayi untuk cucu nya yang masih baru saja gress keluar dari rahim. Merubah letak barang yang ini dan yang itu, semangatnya memang tak berani aku ragukan. Sementara mamah berjanji hanya akan membeli barang seperlunya saja, sebuah tudung saji untuk mengganti 1 yang dirumah karena sudah dalam kondisi menyedihkan.

Kalau papah sih, memang sesuai dengan apa yang dia sampaikan sebelumnya. Benar-benar hanya membeli 1 buah rak sepatu untuk Masjid dekat rumah. Tapi Mamah, olalaaaa yang awalnya hanya hendak membeli tudung saji, entah kenapa berkembang biak menjadi, thermos, ember, tempat teh dan gula, gantungan dll. Emm, sepertinya kondisi yang begini ini tak asing lagi buatku. Btw, aku sedang bicara tentang mamah kan, bukan tentangku ya hehehe..

Karena kami belanja terpisah, papah sendiri dan aku bersama dengan mamah, berulang kali ponselku berkedip memunculkan nama “papahkusayank” di layarnya. Begitu kuangkat, Duh Gusti, suara itu menggelegar ditelinga. “Belanja apa aja si?? Lama bangetttt!!!”. Mamah cuman bisa partisipasi formalitas sekedarnya dengan bilang “Sudah kok, sudah selesai” tapi masih sambil terus menatap lembaran alas kaki yang entah kenapa menurutnya masih tetap mahal, padahal kulihat harganya sudah dicoret dua kali. Jadi ya sudah, kuminta papah agar menunggu kami didekat kasir.

Saat asyik kami memupuk kesabaran dengan mengantri di kasir dengan keranjang yang mirip tumpeng ulang tahun raksasa, kuperhatikan papah sedang asyik mejeng di stand kesehatan tak jauh dari kasir. Stand kecil bertuliskan “Herbalife” dengan manusia-manusia pekerja yang menggunakan pin bertuliskan “saya sudah turun 7 kilo”. Saat aku menghampiri, aku disambut dengan timbangan khusus yang sebelumnya menyangga tubuh papahku.

Memang sih, semakin bertambah usia, semakin rajin papah menjaga kesehatannya. Papahku diberi secarik kertas yang bagian berat badan, tinggi, kolesterol, lemak, dan air nya dibiarkan kosong. Konsultan kesehatan itu yang akan menuliskannya secara manual. Seketika aku merasa sebal dengan si konsultan kesehatan yang wajahnya mirip dengan anak STM yang sedang bolos pelajaran, dia bilang papahku masih kelebihan berta badan, kelebihan kadar lemak, kelebihan kolesterol, kurang air dan kurang beraktifitas. Huh, aku rasa si konsultan muka kurang meyakinkan itu terlalu sok tahu dengan analisanya. Mana dia tahu kalau papahku itu rajin diet, setiap hari masih jalan pagi, masih mengajar 3x seminggu di saat pensiunnya, terkadang masih menyetir sendiri di jalanan Jakarta yang hiruk pikuk, masih menggendong dan mengajak main cucunya sendiri. Aku sebal mendengar paparan si tukang yang katanya ahli kesehatan tapi menjelaskanpun masih sangat terdengar hapalan. Aku sebal karena khawatir setelah ini papah lantas akan berpikir bahwa dietnya kurang disiplin, bahwa lari paginya kurang lama, bahwa aktifitasnya masih kurang banyak. Meski sempat dia bilang, “Bahkan Ade Rai sekalipun pun tetap masih dianggap kurang sehat bila dimbang dengan timbangan khusus itu. Sama saja intinya, ujung-ujungnya jual produk.

Yasudahlah pah, kenapa juga harus percaya sama si konsultan yang hanya bermodalkan timbangan untuk senjatanya menganalisa. Si konsultan yang bahkan tubuhnya pasti dibilang terlalu kurus dan kurang gizi kalau ditimbang pakai alat yang sama. Papah lihat sendirikan, bahkan bajunya yang berlogo daun itupun masih kebesaran saat dia pakai. Janji ya Pah, jangan diet yang berlebihan, jangan terlalu capek, istirahat yang cukup. Menjaga kesehatan itu memang perlu, Pah. Tapi kalo si konsultan kesehatan itu sok tahu, menganalisa yang berlebihan demi satu produk terjual dan mesti dibayar dengan kecemasan papah, sini biar santi yang getok dia pake timbangan! Huhuhu


Jogjakarta, 28 September 2009

About Happiness

Relatif menurut saya ukuran kebahagian untuk masing-masing individu. Untuk seseorang yang sedang sakit, kebahagiaan baginya adalah ketika mereka bisa merasa sehat, terbebas dari penyakit dan dokter. Untuk anak-anak, kebahagiaan adalah bermain sampai malam, bangun kesiangan, makan permen dan ice cream tanpa harus makan sayur. Untuk seorang pengangguran, kebahagiaan adalah memperoleh pekerjaan dengan gaji yang bisa memenuhi kebutuhannya dan menutup beban keluarganya.

Menurut saya lagi, pun kebahagian seseorang tidak akan pernah berhenti sampai disatu titik saja, akan terus bergerak dan berubah seiring dengan harapan manusia yang terus merangkak dan meminta lebih. Pengangguran yang sudah dapat pekerjaan ingin naik pangkat, anak kecil yang sudah dapat ice cream ingin mainan baru, pesakitan yang sudah sembuh lantas ingin memiliki tubuh dengan shapes sixpack dibagian perut. Tapi saya paham, saya maklum. Ini manusiawi kok rasanya. Manusia susah sekali dipuaskan, meski bersyukur sudah tidak perlu diingatkan.

Apa sih takarannya? Sering sekali ketika saya pikir saya sudah behagia, tapi ternyata setelah saya pikir ulang, oh mungkin juga saya salah. Mungkin ini sekedar usaha untuk mengelabui kejujuran hati saya yang sebenarnya sulit sekali dibohongi. Bahagia itu tentang rasa. Yang kalau mau jujur, ya hanya kita yang tahu apakah sudah bahagia, sedang bahagia atau bahkan tidak bahagia. Jika kita saja bisa salah berpikir tentang kebahagiaan kita sendiri, apalagi orang lain. Termasuk juga ketika kita berpikir kita tahu apa yang bisa membuat orang lain bahagia. Iya kah? Benarkah? atau sebenarnya itu hanya sebatas rasa sok tahu yang di justifikasi standarisasinya.

Siapa sih yang membuat standard kebahagiaan itu dengan lulus Cum Laude, pekerjaan dengan gaji mentereng, mobil Brand New, menikah muda. Jika standard itupun tidak pernah mutlak pada masing-masing personal yang berhati dan berotak, jika standard itu selalu berubah seperti waktu yang tidak pernah berhenti meski jarumnya berulang di angka yang sama, lantas kenapa menjadi bahagia membutuhkan requirements yang harus dilengkapi dengan standard yang dijustifikasi sendiri? kenapa harus dibatasi dan dipersempit seolah-olah otak dan hati manusia adalah seragam.

Oh ya, jika kamu berpikir, kamu tahu apa yang bisa membuat orang lain bahagia. Oh, please! Itu tentang mereka bukan tentang kamu. Takutnya, jangan-jangan itu hanyalah kebahagiaan yang sedang kamu coba standarisasikan persyaratannya. Lalu lantas itu bukanlah lagi menjadi kebahagiaannya, tapi kebahagiaanmu :)

Bersyukur dengan penuh keikhlasan hati adalah salah satu cara yang paling mungkin bagi seseorang agar jatuh cinta dengan apa yang dijalani dan dimiliki. Dan jatuh cinta adalah ruang dimana kebahagiaan menjadi raja. Saya pribadi sungguh merasa bersyukur atas setiap hal dalam hidup saya. Sungguh tidak pantas rasanya kalau saya mengeluhkan semua nikmat hidup saya, sadari bahwa apa yang saya miliki terkadang menjadi standar kebahagiaan untuk beberapa orang lain. Ya, saya memang beruntung, dan saya bersyukur. Segala puji bagi Allah pemilik Semesta dan Alam raya.

Namun jika saya ditanya, apa sih yang membuat saya bahagia, maka jawaban saya adalah saya bahagia ketika orang tua saya bahagia. Jika sudah begini, saya suka berkhayal, seandainya otak dan hati kami seragam, pastilah mudah untuk mengikhlaskan keinginan-keinginan yang muncul dalam hidup. Keinginan yang kemunculannya mirip seperti kerikil. Kecil memang, namun bagaimanapun toh tetap saja menjadi material tak tampak muka yang memperkuat lapisan aspal jalan yang mulus. Demi tuhan, Demi apapun yang bernafas dan bahkan sekalipun yang tidak menghembuskan nafas. Dunia dan akhirat yang saya inginkan adalah melihat mama papa saya bahagia. Dan saya akan berusaha untuk itu.

Satu lagi. Jika mama dan papa sering bilang, kebahagiaan saya adalah kebahagiaan mereka, selalu saya bisikkan dalam doa saya, agar malaikat menyampaikan pesan jika bertemu mereka di sepertiga malamnya. Pesan singkat tentang putri kecil yang sungguh merasa bahagia atas hidupnya. Tak perlu lah terlalu khawatir :)

Jogjakarta, 17 September 2009

Dari Sekedar Putri Kecil

Papa, Lelaki idola sepanjang usia. Aku ini putrimu kan? Lihat, garis mata kita sama tak mungkin menipu. Syukur dan terimakasihku entah untuk kali keberapa, nyaris tak pernah kau buat segala inginku menunggu lama.

Mama, perempuan cantik dan tegar yang akan selalu begitu dimataku. Kita sering berseberangan pikiran, tapi Tuhan Maha Besar, aku tahu hanya kebahagiaanku yang kau jadikan garis tujuan. Adalah karunia terbesarku terlahir dari rahimmu dan dibesarkan oleh tanganmu.

Mama papa yang kuartikan segalanya,
Kalau boleh jujur dihadapan Tuhan,
Hanya kebahagiaan mama papa yang aku inginkan. Namun jika sekarang baru sebatas ini yang mampu aku berikan, berkenankah menunggu sebentar? Anakmu sedang mencari kebahagiaan di kaki gunung yang mungkin sulit papa mama banggakan.

Mama, perempuan hebat yang melahirkan dan membesarkan. Rasanya sungguh marah jika mama harus dilanda kesepian. Dan jika memang pesta kecil seperti yang persis terucap saat tetes genangan tak mampu kau sembunyikan dalam lantunan doamu belum mampu aku persembahkan. Masih bolehkan gadismu yang selalu terlihat kecil ini menghiba maaf di gudang persediaanmu yang tak pernah kehabisan.

Papa yang tak sekalipun pernah berhitung padaku. Masih bolehkah kuminta tepukan bangga papa dipundakku? Jika aku masih mengulur waktu terus mencari arti keberhasilan yang mungkin saja berahir dengan beda sudut pandang.

Mama, papa.
Segala kebaikan yang ada padaku adalah turunanmu padaku. Dan segala kukuranganku adalah kelalaianku atas ajaranmu. Aku mewarisi caramu merasakan nafas kehidupan dan memaknai persoalan, meski lalu terkadang kita menjadi bercabang ketika akhirnya sampai pada titik harus menyikapi keadaan. Bukan sekali tenggorokanku tercekat, sadari kau tak pernah kurang memberiku apa tanpa sekalipun mengingat.

Mama, papa.
Garis lahirku kental kentara atas doamu sepanjang sajadah tergerai. Dan putrimu ini sungguh ingin berkata benar. Demi setiap nama-nama baik bagiNya, sungguh tak ada yang lebih kucintai selain kalian.

Dan jika ini masih menjadi pertanyaan, semoga Jibril membisikkannya padamu nanti malam.

Jogjakarta, 18 Agustus 2009 *sekedar perempuan kecil yang ingin berarti dan mencari arti.

Eureka Arla

Hari ini judulnya menjadi tante yang baik. Dimulai dari bangun tidur dengan mata mengantuk karena kurang tidur, lalu mengantar Arla, keponakanku, mengikuti Field Trip di Kaliurang. Ya jelas dong pake nyasar. Kalo ga nyasar bukan Auntynya arla namanya, -huuff bukan sesuatu yg patut dibanggakan to be honest-

Lalu, dimulailah kegiatan field trip sekolah Arla itu dengan lomba-lomba khas tujuh belasan. Kelas Arla, toddler, kebagian 2 lomba, membawa bola dengan sendok, dan balap lari bawa bendera.

Biasanya, Arla termasuk hobi mogok kalo urusan tampil di muka umum, padahal kalo di rumah, dooooh jagoannya ga ketulungan. Jadi sebelum lomba dimulai, aku sempet deg-degan juga, takut arla mogok lagi nggak mau ikutan lomba. And it happened! Pertamanya; Arla emang ga mau gabung ikutan lomba, tapi pas bu gurunya bilang, no worry Arla, Aunty will stand in the finish line, Arla ahirnya mau juga. Horrreee! The game began!

Lomba Balapan bawa bendera, Arla juara 1 di putaran pertama dan masuk babak final. Doh, terharunya tante santi yang menyemangati di garis finish, berasa ikutan hamil 9 bulan deh.. Hahaha maap bundanya Arla, anti lebay! Sayang putaran finalnya agak lama, Arla keburu pengen pipis, katanya "kebelet anti, arla mo pipis". maunya si aku suruh tahan dulu, nunggu final, tapi kasian juga anak kakakku itu, daripada ngompol, repot pula awak! So, ya, ahirnya aku putuskan buat memboyong Arla ke toilet. Tapi benarlah ternyata sodara sodara, yang aku khawatirkanpun terjadi. Pas kita naek- naek ke dataran yang lebih tinggi guna menuju ke toilet, dari bawah guru-gurunya arla keburu teriak-teriak memanggil "Arla, Arla, u go to the Final round!" dan kita dari ataspun panik menyahut ga kalah keras "Sorry miss. Arla is having a pee" HIKS. Arla missed the final round :( Tapi gapapa; Arla tetep jadi juara 3. Yay!

Lomba bawa bola di sendok juga berkesan untukku dan Arla. Arla tanding 2 kali dan jadi juara 1. Huhuhuu anti yang menunggu di garis finish bener2 terharu deh. Gitu ya sayang, jangan takut dengan lomba. Kalah bukan masalah. Berani mencoba, itu sudah hebat :)

Sayang, tadi ga bw kamera walopun sempet ngambil beberapa gambar pake HP sebelum abis batre :(

Tapi tetep, anti bangga banget sama arla hari ini. Apa lagi abis lomba mamam nya pinter, pizza nya cepet abis, kunyah-kunyah nggak pake di emut. Hahaha... Makasih sayang, anti bangga sama Arla.

Ga kebayang, gimana nanti rasanya kalau gadis kecil yang aku semangati berdiri di garis start itu adalah darah daging yang sempat tinggal selama 9 bulan di perutku. Dududu, mungkin aku bisa menangis sangking terharunya ketika dia menang lomba balap karung, well lomba makan krupuk mungkin, umm ya kalau lomba2 semacam itu nanti sudah tidak ada, rasanya tidak perlu lomba untuk membuatku bangga. Kelak, lakukan apa saja yang menurutmu terbaik, nak :)

Eureka Arla! Merdeka Indonesia!







Jogjakarta, 14 augustus 2009. *catatan untuk Arla, dari Anti-nya Arla.

Kangen Mama

Dulu, saat saya beranjak remaja, tak saya temui hangat sentuhannya sepulang saya sekolah.
Tak bisa saya cicipi juga lezat masakan buatannya setiap hari, saat perut lapar keroncongan.
Terpaksa begitu. Nasib anak rantau. Jauh dari orang tua. Jauh dari mama.

Hingga sekarang, saya selalu rindu belaian mama. Hangat yang lumer sampai di jiwa.
Selalu Terasa istimewa disepanjang perjalanan usia saya.

Meskipun Saya bukan seorang anak perempuan yang menceritakan kisah cinta saya, dan bahkan sebaliknya, saya sembunyikan pangeran saya agar tidak ketahuan, Tapi mama tidak perlu khawatir, kekhawatiran saya sepanjang usia akan tetap sama. Saya tak ingin membuat mama kecewa. Apapun, asal mama bahagia.

Mama, saat ini rasanya terlalu bising suara di telinga saya. Entah yang mana yang benar. Bahkan terkadang yang benarpun seolah hanya menjadi pendar. Sementara yang salah, sorot nya kuat memikat. Lalu Apa pendapat mama. Bicara dong, ma.. Seperti saat kita berdua berbagi bantal, bercengkerama bicara seperti dua wanita dewasa.

Ma, tentu saja saya masih menyembunyikan rahasia pada mama. Bohong, bila tidak. Tapi biarlah, bisikkan saja pada saya. Apa yang membuat mama bahagia. Akan saya dekatkan agar kita bisa menyentuh dan berpelukan bersama. Seperti saat kita berbagi bantal. Bercerita sepanjang malam, memanfaatkan waktu serba minimalis, seolah tak ingin pagi.

Mama, meskipun mama selalu bilang, Bahagia saya adalah bahagia mama. Tapi anggap saja begini. Bahagia mama adalah bahagia saya. Terlalu sulit bagi saya, menemukan kebahagiaan ditengah semua segel berlambang bahagia yang sama. Lalu apa menurut mama. Hanya itu saja yang ingin saya dengar.

Bahwa bahagia hanya bisa di rasakan, iya, Ma? bahwa bahagia, bukan hanya tentang saya, tapi juga tentang mereka? Ah, mama, tegasnya suara mama. Ayo mama, kita berbagi bantal lagi. Bercengkerama lagi. Saya perlu diingatkan tentang mengasihi dengan sederhana. Saya perlu menghiasi diri dengan kemurahan hati untuk mengerti kelemahan orang lain. Saya perlu jemari mama untuk membekap bibir saya agar berhenti berteriak. Saya perlu dipeluk agar mengerti bahwa saya pun disayangi. Saya perlu tangan terampil mama agar tertata kembali hati ini. Saya ingin bersandar pada doa malam mama, sehingga tegak dan terhormat saya.

Mama, yang tak pernah bertanya kenapa ketika saya kalah. Mama yang lebih sering menunda inginnya untuk ingin-ingin saya. Mama yang sudah tak lagi muda. Saya sungguh ingin mama bahagia. Apapun.

Ayo mama, beristirahatlah dalam mimpi saya malam ini. Rebahkan kepala, dan segera berbagi bantal lagi. Tuhan pasti sedang tersenyum menyaksikan pertalian darah yang tak henti saya syukuri dalam setiap tarikan nafas saya. Selamanya, mama perempuan hebat kebanggaan dimata saya.

Saya kangen mama..
Malam yang dingin, kah, ma, di Jakarta..
Izinkan saya selimuti mama dengan hangat cinta perempuan kecilmu ini ya... Perempuan yang baru sekedar berharap bisa menjadi berarti untuk mama, suatu saat nanti..

Kangen banget ma... Hiks hiks.

Jogjakarta, 13 April 2009

Lelaki Kesayanganku dan Lelaki Kesayanganmu

Lelaki kesayanganku,
Maaf ya, lagi-lagi jemari ini menulis tentang kamu. Tak tahan untuk tak bercerita tentang setiap kerikil dan batu besar yang menghiasi duniamu. Telapak kakimu kasar atas perjalanan yang ribuan mill terlewati. Keras sekali. Hebatnya, tak kudengar keluhan ditelinga kanan dan kiri. Tak pula sesekali.

Meskipun hingga kini tak juga kutemukan barisan kata yang mampu melukiskan kekagumanku,boleh aku mencatatnya, lelaki? Sedikit saja. Aku Janji.

Lelaki kesayanganku,
Ada hal yang melukaimu di masa lalu. Saat aku belum bersamamu. Saat hanya angin yang sayup menyampaikan berita sendu. Kamu tertatih tanpaku. Kamu ditandu oleh cinta perempuan yang bukan aku. Tak apa, aku mengerti sayangku. Ini kan tentang masa lalu:)

Cerita tentang kecewamu. Tentang lelaki kecil yang kekagumannya terhempas oleh kenyataan. Bahwa tak seorangpun sempurna didunia. Tak juga lelaki itu. Lelaki yang kukagumi hanya dari ceritamu. Lelaki kesayanganmu. Lelaki yang kau panggil, Bapak.

Cerita itu tak pernah lengkap kudengar dari bibirmu. Entah kenapa bahkan tak mampu kulegakan telingaku. Hanya karena mataku terantuk pada mata sayumu yang meredup sekejap waktu. Jelas kulihat Rindu disitu. Dibalik kelopak yang tak mampu kamu tutupi dengan tawamu yang mengguncang bahu.

Sering sekali bukan, lelaki, kamu selipkan cerita tentang dia sehari-hari. Lelaki tua yang keras kepala dimatamu. Lelaki yang tak pernah terang2an berani kau akui menjadi idolamu. Kenapa memangnya, sayang? Sedikit gentarkah kamu pada pusaran kenangan yang terlalu hebat membawamu ke masa lalu. Saat kebencian terlalu bervolume hingga maaf nyaris terlambat terucap. Lalu sekarang menyisakan jejak penyesalan. Andai saja maaf lebih cepat meluluhkan keras hatimu yang seperti batu karang di pinggir jurang.

Beberapa kali sempat kau bilang, betapa inginnya kamu melihat lelaki itu tersenyum untuk dirimu yang sekarang. Yang mampu berpijak diatas kakimu sendiri. Menjadi seperti dirinya yang mengagungkan dunia seni. Yang bangga dan terberkati oleh lantunan melodi dari hati. Namun, lalu kamu sangat mengerti, tak semua yang kau ingini bisa kau miliki. Tertangkap olehku dibalik semburat gelap kau tersenyum sendiri. Cukup doa yang kau ucapkan dalam hati. Dan tangan yang hangat kau rentangkan ketika dia mengunjungimu dalam mimpi. Lalu, tak ada lagi yang kau sesali.

Percaya padaku lelaki, saat ini bapak pasti sedang membanggakanmu pada malaikat2 baik yang menjaganya. "Lihat malaikat, anak lelaki yang kuat dan hebat itu anakku"

Lelaki kesayanganku,
Aku tahu kekuatanmu jauh lebih besar melebihi tubuhmu. Ketegaranmu jauh lebih keras dari suaramu. Tapi tak seorangpun kebal lelah. Tolak Angin sidomuncul terkadang tak mempan juga mengusir angin bandel di tubuhmu, bukan? ;)

Lelaki kesayanganku,
Lelaki yang kuat bukanlah lelaki yang tak terbatuk meski menghabiskan belasan puntung rokok setiap hari. Bukan yang berbadan kekar atau berjambang sangar. Bukan juga yang tak pernah menangis meski setetes. Tetapi lelaki yang tak pernah menyerah saat pilihan tidak mudah. Lelaki yang tak pernah puas belajar untuk menjadi lebih baik. Seperti itulah kamu di mataku.

Kemarin saat matahari mulai tinggi, bercerita kamu tentang sebuah mimpi. Tentang percakapan rindumu pada lelaki yang kau sebut Bapak. Nafasmu sesak saat terbangun, dan kau dapati matamu basah. Lelaki kesayanganku, tak apa sesekali kau sandarkan lelah kerinduanmu. lalu menangislah dipundakku. Akan kubiarkan kau begitu. Tak apa bila kau jatuh tertidur. Akan kubangunkan bila sudah waktunya kau mulai bernyanyi lagi. Tak perlu malu padaku.

Lelaki kesayanganku, lelaki hebat bukan berarti tak pernah salah, meski bukan pula yang selalu mengalah. Bukan yang tak pernah terjatuh setiap melompat. Tetapi lelaki yang selalu mau berusaha bangkit berdiri ketika terjatuh. Dan kamu begitu bagiku. Kamu hebat. Ayo, sayang. Melompatlah lebih tinggi.

Lelaki kesayanganku,
Jika lidahmu masih terasa kelu mengucap kata rindu, biarlah aku yang sampaikan rindu dalam untaian surat Yasin yang suci. Nanti. Ketika kamu mengajakku mengunjungi makam bapak di Kota Gede.

Jogjakarta, Juni Mei 2009