Showing posts with label Friends. Show all posts
Showing posts with label Friends. Show all posts

Wednesday, February 3, 2010

Fiki's Wedding















Januari kemarin salah seorang teman terbaik saya, Fiki, melangsungkan pernikahannya yang tentu saja membuat saya dan teman-teman se-gank semasa SMA *ciiieh* ikut merasa berbahagia. Pernikahan dua budaya yang berbeda, Indonesia dan Australia masih cukup unik bagi saya, melihat para bule berpakaian jawa lengkap dan patuh pada adat istiadat Jawa yang terasa sakral, membuat pernikahan Fiki dan Sigi menjadi moment spesial yang saya kenang. Lebih-lebih saat sungkeman atau memohon doa restu orang tua yang berlangsung khusyuk meski dilakukan dalam 3 bahasa, bahasa Jawa, Indonesia dan Inggris. Benar-benar menguras air mata, sampai sepertinya maskara waterproof saya harus bekerja lebih ekstra dari biasanya hehe.















Well ya, ritual yang kami biasa kami lakukan bila teman satu gank kami menikah ini adalah membuat seragam kebaya untuk resepsi. Di pernikahan Fiki kemarin saya sendiri yang memilihkan kain warna merah Jreng yang banyak menerima komentar dan kritik pedas karena warnanya yang cukup bitchy hehe.


Humm anyhow, I LOVE my bloody a bit bitchy kebaya hahaha! Setelah ini siapa lagi ya bagian dari gank SMA yang akan kami buatkan seragam kebaya? really can't wait to see and come :)

Oya, I compiled all moments of Fiki's wedding on my facebook foto album, just check it if u want!

Spread Love all over the world, hug and kiss.


Jogjakarta, 3 Februari 2010

Untuk Temanku, Saudara Kecilku

Memang tak ada yang bisa dipaksakan dari sebuah ikatan pertemanan. Ketika kita tak menemukan kecocokan tentu akan sangat sulit dipaksakan, begitu juga sebaliknya, ketika kita merasa menemukan sebuah “klik” -anggaplah begitu kita menamakannya-, pastilah sangat sulit untuk mengingkari kecocokan. Seperti nada yang tetap terdengar seirama meskipun terbagi atas dua suara, seperti dua jemari yang berongga dan bergelombang namun tetap erat melekat saat saling menggenggam. Klop.

Hati kecil tak bisa bohong. Lihat saja. Ketika ia suka, ia akan merona, mekar seperti bunga. Ketika ia tak suka dengan sendirinya ia membiru, berubah menjadi batu. Sesekali barangkali bisa menipu mereka, mengatakan iya sekalipun sebenarnya tidak, namun toh kita bahkan tak akan mampu menipu diri sendiri. Pasti jauh melegakan bila perasaan dibiarkan jujur. Dan bagi saya pertemanan adalah perasaan yang paling jujur.


Ada yang bilang, teman itu adalah partner untuk berbagi segala senang dan susah. Tentu saja begitu idealnya. Namun saya lebih suka menyederhanakannya menjadi satu kalimat yang mungkin akan terdengar lebih cynical, teman itu mereka yang tak akan bertanya kenapa ketika kita datang saat butuh “saja”. Hehehe, saya tak sejahat itu kok. Bukan berarti juga saya lupa pada mereka ketika saya senang. Boleh deh, tanyakan dengan beberapa teman terdekat saya, meskipun kami jarang saling mengupdate perkembangan terbaru beberapa persoalan, namun untuk urusan yang significant dampaknya, kami akan saling memberitahukan. Misal; ketika kami ujian, ketika kami lulus, ketika kami pacaran, ketika kami patah hati, ketika kami bingung ;)

Semakin dewasa, saya rasa pertemanan juga mengambil peran yang semakin bijaksana, semakin mengerti bahwa kekariban bukan berarti menjadi “dekat” atas ukuran jarak, bukan berarti kemana-mana selalu bersama, bisa saja kita terpisah dan jarang bertemu. Namun kedekatan yang saya maksud adalah soal rasa yang jujur saat tersenyum dan membuka tangan, menerima bukan sebagai masalah ketika teman datang saat butuh “saja”. Dan tak perlu meminta mereka untuk memperlakukan kita dengan cara yang sama, teman semestinya akan melakukan itu bahkan sebelum kita bertanya.

Sewaktu-waktu dalam perjalan yang berliku dan berkerikil disana-sini, saya temukan aliran yang tenang mengaliri tubuh saya, meski saya tahu itu bukan darah saya. Yang sesekali tempo menyengat dan selalu membuat teringat. Bahwa teman akan selalu disana, disatu tempat yang tidak pernah bertanya kenapa dan untuk apa kita datang. Seperti itulah saya akan selalu memperlakukanmu, temanku, saudara kecilku :)

Pada semua cerita indah saat nanti sepasang mata berbingkai keriput disana-sini, membuka lembaran gambar diri yang belia, saya berjanji :)

Jogjakarta, 21 Oktober 2009

Catatan Warna Warni

Membereskan beberapa kertas tidak terpakai yang menumpuk di rak buku kamarku, sebagian berdebu dan membuatku bersin-bersin, sebagian lagi membutuhkan konsentrasi untuk memutuskan dengan tepat apakah lembaran itu masih terpakai atau sudah layak digudangkan.

Saya seperti membaca catatan perjalanan hidup saya. Saya geli ketika membaca tulisan saya semasa SMA, dari kecil, saya memang hobi menulis Diary. Kalo dibaca sekarang, saya bisa ngakak dengan bahasa mendayu-dayu syahdu yang saya gunakan dengan penuh percaya diri dulu. Tapi tak apa lah, toh itu saya juga. Mamah saya yang ikut beres-beres di ruangan lain sampai heran, berulang kali berteriak bertanya kenapa saya beres-beres sambil jejeritan tidak karuan. Fiuh.

Ada juga, Binder hijau dengan stiker Silverster yang saya gunakan untuk mencatat semasa SMA, lagi-lagi saya tertawa sampai kejang perut saya. Di bagian belakangnya ada catatan saya bergosip dengan teman-teman seGank *Gank??? Oh God!! please help me find other word*. Dulu memang saya dan teman-teman wanita pernah sangat terinfluence dengan film AADC. Dan halaman belakang yang terletak di dalam binder itu adalah bukti betapa kami dulu hobi sekali ngerumpi meski lewat catatan singkat di kertas. Fiki, Anik, Mbenk sekarang famous dengan nama Bhita, Ridha, Rani, U gotta b so shy if u read it girls!! Dan untuk Ridha, oh sungguh penggunaan kata-katamu dulu sangat tak beretika, bahkan mungkin John Robert Power bisa murka hahaha.. Untungnya level ke-feminin-anmu sekarang sudah berkembang jauh lebih baik, Ridh ;p Anw, MISS the old times!!

Oya, saya rasa ngerumpi di kertas catatan dengan teman sekelas ini masi terus berlangsung ketika saya duduk di bangku kuliah. Masih juga saya temukan catatan rumpian dengan seorang teman *yang maaf tidak bisa diungkap identitasnya demi stabilitas rumah tangga yang sudah dibangunnya sekarang hehe* Catatan itu pertanyaan-pertanyaannya tentang sahabat dekatku, Dita. Hehehe, yank, kalau kamu baca, pasti kamu cuman bisa geleng-geleng sambil menghela nafas. Lika liku percintaanmu dulu, tertoreh beberapa di buku catatan kuliahku hehehe.. Yank Dita dan Yank Tiara adalah teman-teman kuliah yang dulu saling menempel kemanapun kami berada. Seperti beli barang paketan, Beli 1 dapat 3. Persis buah salak, bulet isinya 3. HEHEHE, ayo yank, kita ketemuan. Kangennnnnn berrraaatttt..

Ada juga catatan pelajaran ketika diawal kuliah sekitar tahun 2003 awal, 1 buku yang isi nya campur-campur yang seingat saya saya gunakan untuk belajar sebelum ujian. Buku itu benar-benar full warna, ditulis besar-besar dan tak beraturan dengan crayon yang menghias disana sini. Dari kecil saya memang suka menggambar, bahkan terbawa sampai di catatan pelajaran. Saya rasa saya memang belajar dengan sungguh-sungguh dulu, beberapa halaman di buku itu banyak sekali coretan angka-angka yang ditulis dengan pensil untuk membuat beberapa neraca dan kertas kerja. Kalo boleh pamer sedikit, nilai akuntansi S1 saya dapat A lho hehe. Meskipun kalau sekarang kalau saya disuruh mengerjakan ulang, rasanya saya akan mendadak mules dan panik membolak balik halaman buku untuk memaksa otak mengingat ulang. hohoho.

*ini catatan kuliah saya :




Sedikit heran melihat saya yang cukup berubah menjadi begini pemalas. Mungkin karena saya tidak dipaksa duduk dan menghadap kertas lagi ya? tapi sembari saya beres-beres tadi, saya sadar bahwa waktu berjalan, waktu berubah. Perannya besar untuk merubah perasaan, merubah intensitas dan frekuensi, merubah kedekatan, merubah diri seseorang yang bahkan mungkin tanpa disadari. Perjalanan yang kalau kita tengok kebelakang, mungkin akan ada sedikit malu, sedikit miris, sedikit sesal yang ahirnya harus dengan bijak kita terima dengan rasa syukur. Tapi saya pribadi lebih suka menyebutnya warna warni.

Saya suka mencurah dengan tinta kata-kata. Suatu saat ketika senja usia, mungkin saya akan membacanya lagi, sambil tertawa begini.


Jogjakarta, 4 Oktober 2009