Saturday, December 11, 2010

Gula-Gula

Katamu, dulu aku sangat tahu bagaimana cara paling tepat menikmati gula-gula. Melumerkan lapisan padatnya di lidah lalu diam-diam manisnya kubawa sampai ke mimpi. Kamu pula yang sering kali terheran-heran, apa sebab aku betah berlama-lama menyimpannya dibawah dinding mulut. Ancaman bahwa ia akan melubangi gigiku seperti yg sering kau ucapkan tak berhasil menakutiku. Gula-gulaku seperti candu yang tak bisa kulepaskan. Nikmatnya mengikat, sumpah mati aku terpikat.

Namun itu dulu. Saat sore terlalu manja bila dilewatkan tanpa cerita.

Sekarang, ujung dan pangkal indraku seperti kehilangan fungsi. Aku tak mampu membedakan warna, tak mampu pula merasakan manis atau masam. Aku kebingungan, sementara gula-gulaku seperti semula sama saja. Masih terbungkus plastik bening warna merah muda. Lalu apa yang beda, mungkin racikan tangan yang tak lagi sama. Mungkin aku yang mulai menua, tak lagi selera pada gula-gula.

Ah, mana mungkin. Bukankah aku membutuhkannya seperti sungai membutuhkan air mengalir. Karena sungai bukanlah sungai tanpa ada isi yang dibendungnya. Bahkan sempat kutuliskan dalam jurnal hidupku, betapa istimewa artinya satu kesukaanku itu.

Analisamu, pilihan yang bercabanglah yang mengganggu curahan perhatianku. Aku diam, tak bisa membenarkan. Ingin kusalahkan, tapi takut bila jangan-jangan memang benar seperti yang kamu sebutkan. Ya Tuhan, apa yang salah pada pengecapku. Kuteguk air putih banyak-banyak, kugosok lidahku dengan sabut kelapa. Kesat. Aku ingin ia kembali seperti sedia kala. Agar rindu ini tersampaikan bila nanti bertemu lagi dengan gula-gula.

Kutelusuri sepanjang jalan, kuingat benar beberapa penjual memamerkan gula-gula terbaiknya dibalik etalase kaca satu meteran. Biasanya selepas kerja, aku selalu melewatinya dengan wajah tergiur bersemu-semu. Namun apa mau dikata, tak satupun gula-gula dapat kusapa. Kotak pajangan itu melompong tanpa dagangan.

Aku pulang dengan tangan hampa. Penuh sesak cerita betapa kecewa tak bertemu gula-gula. Namun wajahmu datar, hanya sempat mengernyitkan dahi di detik ke sepersekian. Katamu, memang kamu yang membuang semua gula-gula di dunia, saat tahu ternyata aku tak lagi pandai menikmatinya.

Tak mungkin sanggup tak menangis, saat menyadari kegagalanku ini sempurna.

Menuju Semarang, 10 Desember 2010

Monday, November 22, 2010

Pulang

Aku ingin pulang, ke padang luas yg mereka sebut gersang. Penuh debu dan tercetuslah kotaku tersayang kota tuaku yang usang. Namun apapun kata mereka, tak terbendung langkah ingin kembali memeluk cerita di peraduan lama. Bergelut bersama harapan di kursi rotan buatan tangan. Merengkuh roda kehidupan yang kukayuh dengan cinta sepenuh jiwa. Aku tetap ingin pulang.

Kudewasakan mimpi di sana, tumbuh bersama benturan yang mememarkan di kiri dan kanan, besar bersama goncangan yg membuat isinya berantakan. Kurapikan lagi, berantakan lagi. Kurapikan lagi, tentu saja sesaat lagipun akan berantakan lagi. Begitu seterusnya, belum berhenti hingga ia tumbuh menjalar seolah hanya 3 centi lagi tergapai. Aku melompat, belum juga kudapat. Kudengar sorakan, menyemangati dan mencemoohi. Aku tutup telinga, 3 centi lagi jarak pandangnya, lompatanku akan melambung lebih tinggi, aku berjanji. Sesaat lagi, saat aku pulang ke padang yg mereka sebut gersang.

Bukan aku tak betah disini, tentu saja aku akan selalu kerasan kembali. Padamu doa kebahagiaan kulafalkan sepanjang malam. Namun mengertilah, ada satu janji yang harus kutepati. Bukan hanya soal hati, namun juga perkara kenapa aku belum mau mati. Ini alasan kenapa aku selalu ingin bergegas pagi. Ini gairah yang selalu mencuatkan senyum saat lelah menguasai. Ini tentang keikhlasan yang melegakan saat air mata menyungai tak terbendung lagi. Aku yakin kau mengerti, setidaknya aku yakin sesungguhnya kau akan mengerti.

Maka biarlah dulu aku pulang. Lalu untukmu, akan kubawakan bingkisan sebagai buah tangan saat lebaran haji tahun depan. Tenangkan hatimu. Tak lain dan tak bukan, kembaliku selalu padamu, jalanku menuju surgaku.

Sungguh. Aku hanya ingin pulang, dalam simpuh pada kuasa tuhan.


Ciputat, 20 November 2010

Thursday, November 4, 2010

Menghitung Usia

Saya termasuk yang tidak pernah menghitung usia. Malah tak jarang, orang lain yg mengingatkan jika saya merasa beberapa tahun lebih muda. Hehe..

Entahlah. Namun saya tidak sepakat jika usia dijadikan batasan untuk mengukur pencapaian keberhasilan seseorang. Seolah itu adalah garis mutlak yang bila tidak terlampaui, maka celakalah hidup manusia. Kata "seharusnya" yang dilekatkan setelah usia tertentu, terkadang membuat saya sedikit murka. Usia sekian seharusnya sudah mapan, bekerja, menikah punya anak, punya rumah dst. Siapa yg mengharuskan? Bukankah itu hanyalah aturan yang tidak pernah tertulis namun lalu disama ratakan fungsinya, dipukul rata. Dan bukankah kita tidak pernah tahu ketetapan masing-masing hati. Datangnya tidak mungkin seragam sama sesuai jadwal.

Ini bukan pembelaan saya atas apa-apa yang belum terlampaui di usia ini. Sama sekali bukan. Sebaliknya, ini adalah bentuk suka cita saya terhadap apa yang sudah saya lampaui. Saya merasa terberkati, di usia ini banyak hal yang sudah saya kerjakan dan saya yakini bukan sia-sia. Beberapa melihat saya terlambat, beberapa juga melihat saya tidak maksimal. Namun siapa yg mampu membaca puasnya hati jika melakukan sesuatu dgn cinta.

Sebaik-baiknya manusia adalah yang memberi manfaat bagi orang lain. Satu kalimat sederhana yang berarti luar biasa bagi saya. Menjadi motivasi bagi hidup saya. Biarlah jika beberapa pendapat memarginalkan pilihan saya, namun saya meyakini hidup saya menghidupi orang lain, dan itu membuat saya bernafas dengan lega. Saya merasa tangan dan langkah ini berarti.

Diusia ini saya tidak akan bertanya kenapa, kapan dan bagaimana padaNya. Saya mengerti bahwa Tuhan telah atur semua, tidak mungkin ada yang terlupa. Saya akan menjadi hamba yang sabar dan banyak berdoa. Tentang usaha, dalam setiap nafas ia akan selalu ada. Saya bukan yang pendiam dalam bekerja. Tidak :)












Saya tidak menghitung usia, namun bukan berarti saya lupa, 26 tahun perjalanan kehidupan saya. Cinta luar biasa saya dapatkan, mama papa yang tidak berhenti berdoa dan menyayangi saya, apapun untuk kebaikan saya. Saya yakin itu. Saudara dan keponakan-keponakan lucu yang menghujani dengan peluk cium dan kata sayang. Sahabat yang tidak pernah lupa berbagi doa dan ceria. Pekerjaan yang selalu saya syukuri karena beberapa tangan tergenggam dan tercukupi. Saya bersyukur.














Juga untuk kekasih yang rela memetik kebahagiaan hingga ke ujung dunia hanya untuk diberikannya kepada saya. Ini sungguhan. Betapa usahanya untuk membahagiakan saya selalu membuat saya bertekuk lutut pada cintanya. Tepat saat 26 tahun usia saya. Saya meneteskan banyak air mata melihat perjuangannya. Kebahagiaan memang tidak bisa dibeli, namun dia membelikannya untuk saya dengan besar perjuangannya. Lebih dari sekedar kado hebat yang saya terima, sebuah pensil warna lengkap, dengan ukiran nama saya di ujung kayunya. Lebih dari kejutan manis di malam hari, butik kecil tersulap penuh lampion warna-warni. Lebih dari itu. Dia mengajari saya, bahwa mencintai adalah melakukan segalanya untuk seulas senyum bahagia, tidak berhenti meski terkadang nyeri terasa diujung hati. Besar harapan saya agar saya bukan sekedar membalas dengan rasa haru semata, namun dengan pengabdian pada cinta yang tidak menghitung usia.







26 tahun, dan saya tahu Tuhan selalu baik hati. Hidup saya terberkati. Matur nuwun, Gusti.






13 Oktober 2010

Monday, September 20, 2010

Sepetak Mimpi dalam Toko

Astaga, ternyata cukup lama jemari ini tidak saya paksakan untuk menggoreskan rasa lewat kata-kata. Bukan apa-apa, hanya tampaknya kedua tangan saya sudah terlalu lelah setibanya di rumah. Melemah setelah seharian menjamu mimpi yang datang, membuatkannya kopi, menyiapkan setoples nastar bertutup plastik warna lembayung langit pagi. Harapan saya, Hei mimpi bersenang-senanglah disini, jangan lupa untuk tetap datang kembali. Namun saat memang ia harus pergi, saya pula yang melepasnya dengan lambaian tangan berulang kali. Harapan saya, agar sang mimpi menaruh perhatian lebih pada gerakan tangan yang bergoyang lebih cepat dari "wiper" penyeka air kaca depan, hingga tak sempatlah baginya melihat genangan di sudut mata kecil perempuan. Melepaskan mimpi tentu saja rasanya berat sekali, meski hanya berpisah ranjang dalam sehari. Sungguh..


Ya ya begitu.. Jadi baru lah saja saya sadari, lebih dari sebulan ini tumpukan kalimat hanya berhenti dalam hati. Sama tebal dengan ensiklopedi, hanya mungkin ceritanya jauh dari runtut, berlompatan sesuai dengan berkabung atau tidak, mendung atau cerah langit sang pemilik hati.


Sementara belakangan, waktu senggang saya habiskan khusyuk melumat hujan dari balik jendela toko kecil di Gejayan. Lagi-lagi tangan saya terlalu sibuk menjadi patung penyangga dagu, melihat percikan air yang muncrat dari genangan yang terlindas ban mobil yang melaju. Dari balik kaca, cipratan kobokan coklat itu melesak dan berpendar menjadi air mancur di Telaga Biru. Lalu rembesan air hujan yang menodai dinding sebelah utara sering memunculkan ragam liar warna warni. Tentang sosok pengantin bertutup kerudung putih yang serta merta berubah bentuk menjadi kubah masjid di sore esok hari. Pernah suatu ketika, saat angin tergesa-gesa menyerbu toko kami, pohon trembesi di pinggir jalan bergoyang seperti hendak menikam dengan dahan sebilah pisau, saya kehilangan nyali. Tapi lagi-lagi imaji berhasil menghibur diri, rembesan air di dinding mencandai, berbentuk kepala sapi. Hingga saya pun tak takut lagi. Bila hujan membanjiri, saya akan naik sampai ke atas kepala sapi. Ah, bilapun ternyata harus ternggelam, paling tidak ada si kepala sapi yang menemani.


Liar bukan kepalang, isi kepala bertukar tempat dengan sketsa masa depan, marah-marah dengan masa lalu, juga kelelahan adu argumen dengan nasib hidup hari ini. Saya habiskan semuanya di toko itu. Ruangan kecil yang dibuat sendiri oleh tangan sepasang kekasih. Tangan yang telapak kasarnya terbuka saat menampung cinta yang terluruh dari semua kemungkinan yang dunia sebut muskil. Kami berlindung disana, dari segala ketakutan, kekhawatiran, ketidakberdayaan. Kami berteduh, dari semua yang melegamkan harapan. Kadang kami gentar, menangis dengan kaki gemetar yang bahkan tak sanggup menyangga beban. Tapi pun kami, saya dan dia, berserah pada doa yang terlafalkan setiap malam. Sebelum terbujur dan bertanya apa-apa lagi yang akan terjadi saat esok pagi datang.



Akankah sama? Mencandai lagi genangan air dipinggir jalan, membebaskan ilusi liar atas rembesan air di dinding. Akankah sama? Berlindung di balik mimpi yang kita jamu dengan setulus hati.






Dibalik ruangan kecil itu, sepetak mimpi saya bebaskan melambung terpelanting sesuka hati. Dan kamu, rembesan bentuk kepala sapi. Ah...hanya imajinasi.



Santi's Shop, Gejayan, Jogjakarta. 19 September 2010

Sunday, July 25, 2010

Pemuja Sore

Untuk kamu sang pemuja sore.
Kapan lagi kita menikmati secangkir jahe dan sepotong kue.
Percayalah ini bukan hanya tentang perut yang perlu diisi,
Ini tentang rindu yang mengeluh minta diobati.
Ini tentang obrolan jenaka yang membuatku selalu khayalkan kamu disini.
Tentang genggam hangat tanganmu persis saat tenggelamnya matahari.
Ini tentang sore yang tak mungkin sama,
Jika kamu tak ada


Jogjakarta, 25 Juli 2010

Thursday, July 15, 2010

Bagaimana Mencatatnya

Rasanya tidak lengkap catatan saya jika saya tidak menuliskan ini, sebuah kesempatan yang saya anggap istimewa dan hanya sekali waktu terjadi. Saat dimana saya merasa Tuhan tidak terlalu bermurah hati pada saya. Ya memang, pada saat itu saya lah yang kurang bijaksana, melihat selalu ke atas, hingga menganggap diri terlalu rendah. Lupa bersyukur terlalu banyak meminta. Hingga saya menjadi malu. Ya Ampun, ternyata saya adalah hambaNya yang selalu berprasangka buruk, bahkan ketika sesungguhnya saya tak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam kurun satu jam lagi.

Yang saya tahu saat memulai hari itu, seharian saya akan menjadi tak lebih dari seorang MC Dokter Kecil Lifebuoy di tempat terbuka Prambanan, bersama anak-anak yang tentu saja bukan hanya menyenangkan tapi juga merepotkan. Berhadapan dengan klien yang cicicuit cerewetnya bukan main, -yang setelah saya pikir-pikir lagi, ya sudahlah mereka kan hanya pekerja profesional yang menjalankan tugas dengan baik- Mana saya menyangka jika di satu hari yang saya tuduhkan akan biasa-biasa itu malah meninggalkan goresan kesejukan dan ketenangan.

Berawal dari pertemuan saya dengan partner MC yang terlanjur saya sosokkan sebagai seorang yang sombong, dan tidak menyenangkan. Maaf, biasanya, biarpun status sama-sama MC, namun jika hanya menjadi pendamping MC Utama yang konon adalah artis ibu kota,ya begitulah adanya sikap mereka terhadap kami MC lokal. Tapi ternyata tidak semua begitu. Maafkan saya sekali lagi, manusia yang terlalu cepat menyimpulkan bahkan sebelum kehendak Tuhan terjadi.

Dik Doank, sosok yang sebelumnya hanya saya lihat dari televisi, adalah sosok yang jauh berbeda dari bayangan saya akan glamournya dunia selebriti. Setengah hari kebersamaan kami dalam konteks bekerja, saya belajar mengenai banyak hal darinya. Bukan hanya bagaimana tentang menghidupkan suasana, menghilangkan rasa jenuh anak-anak, tapi juga tentang menghilangkan prasangka.

Saya tidak pernah menduga, diantara keterbatasan waktu yang diberikan saat break, dia mengajak saya untuk shalat dzuhur bersama. Mulai lah dia bercerita tentang betapa Allah memberi banyak kemudahan dalam ibadah, dengan menjamak sholat dan mengqashar rakaat. Lalu kenapa manusia masih seolah merasa kesulitan menjalankan perintahnya. Padahal waktu ibadah kita 5 waktu itu mungkin hanya sekitar 30 menit, apa lah artinya itu dibanding 24 jam waktu seharian yang diberikan, yang kita pakai untuk bekerja, untuk jalan-jalan, untuk facebook-an, twitter-an dll. Hahaha, pipi saya tidak merah, tetapi saya kok merasa seperti ada yang menampar.

Perlahan, saya sampaikan kekaguman saya tentang konsistensinya menjalankan ibadah, dan dengan berapi-api, beginilah jawabannya "sholat 5 waktu itu biasa san, yang hebat itu sholat sunnah. Dzakat itu biasa banget, tapi yang hebat kalau bisa terus sedekah". Saya makin merasa ruang-ruang hampa dalam diri saya mulai terisi, lalu perlahan terasa hangat. Di sela-sela acara, saat istirahat kami berdiskusi tentang banyak hal.

Tentang pekerjaan, dia sampaikan pada saya, bukan pointnya bekerja di kantor, swasta, atau entertainment. Kalau kita kembalikan pada peran kita sebagai HambaNya. Maka di manapun kita bekerja, kita hanya akan melakukan kebaikan, dan pekerjaan yang kami lakukan, jika dijalankan dengan hati yg tulus ikhlas akan terasa sebagai berkah yang luar biasa. Bekerja untuk membuat orang lain senang dengan hati yang juga senang. Lalu, dia juga membesarkan hati saya yang galau. Tentang perasaan saya yang merapuh sebagai seorang anak, saya merasa belum sanggup membahagiakan kedua orang tua dengan mewujudkan keinginan-keinginan beliau. Lalu dia katakan pada saya, Jangan pernah salahakan rasa sayang orang tua yang diberikan dengan berbagai macam caranya. Orang tua itu sayang sama anak, sangat sayang. Itulah kenapa mereka selalu menginginkan anaknya sukses, terkadang dengan cara-cara yang mereka pilihkan sendiri. Tapi bukan berarti anak tidak punya pilihan, San. Tunjukkan kamu bisa, kamu mampu sukses, kamu bahagia. Maka orang tua akan mengerti dan bersyukur. Saya yakin, sesungguhnya orang tua tidak pernah berhenti mendoakan anak.

Sulit untuk menceritakan dengan runtut apa-apa saja yang kami ceritakan, namun ada satu yang saya ingat, ceritanya tentang keluarga. Mas Dik Doank tampak bersungguh-sungguh ketika menyampaikan petuahnya. Katanya, jadilah perempuan yang cerdas, jauh lebih cerdas dari pada suamimu nanti. Kenapa? karena kamu akan menemani anak-anakmu meraih masa depannya, karena kamu akan membantu suamimu menjalankan pekerjaannya. Tapi, jadilah perempuan yang terlihat lemah di mata suamimu nanti, pura-pura jg nggak apa-apa deh, karena sebenernya laki-laki suka saat merasa dibutuhkan. Dia menutupnya dengan satu tawa yang keras, sambil membuat pengakuan bahwa kesal sebenarnya saat harus mengakui kalimat terakhirnya. Saya juga jadi ikut tertawa, seolah melepas sebentar beban di pundak saya.

Lalu soal betapa gemasnya dia pada dunia pendidikan di Indonesia yang seolah hanya mengedepankan persoalan hitungan semata. Dia sampaikan pada saya tentang keheranannya. Aneh, karena anak dianggap cerdas bila hebat soal hitungan sedangkan kreatifitasnya tumpul. Entah sampai kapan anak-anak itu akan terus-terusan menggambar 2 gunung menjulang dengan 1 matahari ditengahnya, ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Berbeda dengan sekolah alam yang dibuatnya, Kandang JuranK DoanK, yang menggunakan Asmaul Husna sebagai panutannya dalam kegiatan belajar mengajar. Asmaul husna, nama-nama baik Allah dimana Al Khalik Yang Maha Mencipta ada di urutan ke 14 ada di urutan lebih awal dibanding Al hisab, Yang Maha Menghitung. Dik Doank mengedepankan kreatifitas dan indah berkesenian dalam pengajarannya. Menurutnya, jika anak menyukai keindahan, maka anak akan menyukai kedamaian, tidak menyukai permusuhan, tidak akan mencemari lingkungan dan tentu saja akan membenci kebodohan. Kebodohan itu sama sekali tidak indah.

Dan meski ajaran di sekolahnya berlandaskan Asmaul Husna, namun dikatakannya, pengetahuan manusia tentang agama tidak lah boleh tertutup, harus terbuka. Ajaran agama yang diturunkan pada manusia tidak lebih dari budaya yang diterima dari pendahulunya. Agama manapun tak ada yang satupun mengajarkan kejahatan dan hal - hal buruk lainnya. Itulah kenapa kita harus menghormati agama lain.

Masih banyak yang kami diskusikan dan bicarakan. Bila sebulan belakangan mata dan telinga saya selalu penuh oleh hingar bingar pemberitaan selebritis dan videonya yang seolah menyeragamkan dunia entertainment. Hari itu saya seperti tersadar bahwa tak semestinya manusia terlalu gegabah menyimpulkan, tidak semua seniman selalu menjadi hamba yang lupa dan pendosa. Setidaknya saya masih sempat bertemu dengan satu diantara mereka yang menyadarkan saya, bahwa pahala ataupun dosa adalah urusan manusia di dunia untuk dipertanggung jawabkan di akhirat. Kewajiban kita untuk menjadi HambaNya yang selalu mensyukuri rahmat yang diberikan dengan menjalankan perintahNya, Namun tak sedikitpun berhak kita menghakimi, biarkan itu menjadi rahasia Allah di Yaumul Nisab.













Seolah kesejukan baru saja mengisi kekosongan di jiwa saya, seharian itu saya merasa malu karena terlalu terburu-buru berprasangka di awal hari. Kebaikan hati yang Tuhan berikan pada saya, terlalu sempit bila harus saya batasi artinya dengan sulitnya mobilitas, dengan banyaknya keringat yang terperas seharian oleh panasnya matahari, dengan materi yang tidak seharusnya saya bebani dengan hitungan-hitungan dan pertanyaan. Bukan itu ternyata. Ini tentang sebuah pelajaran yang hanya bisa dirasakan jika saya mulai mensyukuri langkah yang Tuhan arahkan. Sebuah pelajaran yang memang diberikan untuk saya, di satu satu tempat, di satu waktu yang tak dapat saya minta atau diputar kembali.

Ini tentang bagaimana saya mencatatnya, meresapinya dan sebenar-benarnya mensyukurinya.

Jogjakarta, 15 Juli 2010

Wednesday, June 30, 2010

Di Usianya

Terkadang manusia memang tak bisa berbuat banyak atas jalan hidup yang dipilihkan Tuhan untuk mereka. Sama halnya dengan "mbak-mbak" yang membantu beberapa pekerjaan di keluarga saya. Mbak Anis dan mbak Shiroh namanya, dua orang yang tentu saja sangat berjasa dalam kelancaran dan kerapian seisi rumah. Saat ini usianya baru belasan tahun,Mbak Anis 18 thn, mbak Shiroh 17 thn, usia yang sama saat saya dulu masih duduk di bangku sekolah, bermain bersama teman-teman, tak berpikir terlalu keras selain tentang pelajaran dan ujian. Namun demikian saya yakin, pasti inilah pilihan yang mereka rasa terbaik untuk dijalani, bekerja keras jauh dari keluarga, merelakan masa mudanya terbatasi oleh tanggungjawab yang mereka pertaruhkan untuk pekerjaannya.

Mereka manusia biasa di usianya, yang seperti halnya remaja lain, mereka senang mengekspresikan diri, senang berpenampilan menarik, berhasrat dan ingin tahu tentang hubungan lawan jenis. Saya ingat sekali betapa centilnya saya semasa remaja (well ok, pun masih berlangsung hingga saat ini :D ) selalu mengikuti perkembangan mode terbaru, mengikuti apa kata majalah, dan bila saya ketinggalan lagu-lagu terbaru dari band-band papan atas, itu artinya saya ketinggalan jaman. Maka saya pun tidak heran jika mbak-mbak saya itu lebih hafal dengan nama-nama band yang bahkan lagunya tidak di putar di radio saya bekerja. Mereka menyimpan mp3nya di handphone, lalu mereka putar saat mereka menyetrika atau memasak. Ya sudahlah, apa lagi hiburan mereka.. Jalan-jalan, shopping atau makan di mall seenaknya? jangan bercanda..

Kemarin ketika saya pulang ke rumah lebih cepat dari biasanya, rupanya itu cukup mengagetkan kedua "mbak" saya. Saya pulang di saat yang tidak tepat bagi mereka. Persis saat saya memarkir kendaraan di depan pagar, mbak-mbak saya sedang asyik berfoto dengan kamera handphonenya. Mungkin bukan hanya sekedar alasan itu saja yang membuat mereka tunggang langgang melihat saya, tapi bando milik saya dengan bunga merekah putih yang masih melekat di kepalanya dan tidak lagi sempat disembunyikan.

Oh Tuhan saya sungguh tidak keberatan sebenarnya. Saya bahkan sungguh mengerti, bahwa diusianya, mendekomentasikan diri dalam potret-potret yang disimpan di handphone mereka adalah hal yang lumrah. Bukankah nyaris remaja-remaja sekarang melakukannya, lalu apa salahnya? bukankah mereka juga masih remaja. Miris hati ini melihat mereka yang lari tunggang langgang menahan malu karena ketahuan hiasan bunga milik saya masih terselip di rambutnya. Saya malahan sedih, menyadari bahwa mereka adalah gadis-gadis biasa yang terpaksa menahan hasrat mudanya yang meledak-ledak. Seolah sayapun merasa patut dipersalahkan karena menjadi pemicu yang membuat keinginan-keinginan mereka semakin sulit dikendalikan. Adalah saya, yang membuat kesenjangan itu semakin terasa seperti jurang yang menyakitkan. Karena itu, maafkan saya ya..

Mbak-Mbakku sayang, mbak-mbak yang masih sempat tertawa dan memuja cinta ditengah beratnya tempaan kehidupan. Untuk pilihan sulit yang sudah berani kau buat, untuk pilihan yang lebih dari sekedar keterpaksaan namun juga sebuah pengorbanan, saya angkat topi tinggi-tinggi. Padamu, saya belajar untuk lebih berkaca memandang diri dengan rendah hati, lalu mensyukuri nikmat Tuhan yang terkadang saya alpakan.

Bukankah sesungguhnya setiap kita adalah manusia yang selalu dihadapkan dengan pilihan. Bersyukur bila tanggungjawabnya berjalan beriringan dengan hasrat alamiah manusia, namun bila ternyata berseberangan, maka hanya manusia-manusia hebat yang pada akhirnya tetap bisa konsisten dan bertahan.

Buat saya, mbak-mbak saya itu tetap sama saja dengan gadis remaja lainnya, keinginan mereka lumrah dan tak bersalah. Toh itu tak membuat mereka berhenti membantu saya, keluarga saya dan keluarganya.

Barbados, Jogjakarta, 30 Juni 2010